Skip to content

Tanda-tanda Ulama Akhirat

18 Desember 2011

Dan orang-orang yang beruntung dan didekatkan (kepada Allah) adalah ulama akhirat. Ikutilah para ulama akhirat ini, dan jangan terjebak dengan ulama-ulama dunia (ulama yang buruk). Ulama akhirat benar-benar mengajak kepada kebahagiaan akhirat.

Artikel ini ringkasan dari sebagian kecil isi kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al Ghazali. Dalam kitab ini, ulama akhirat mempunyai tanda-tanda, sebagian dari padanya adalah :

.

a. Ia tidak mencari dunia dengan ilmunya.

Hasan rahimahullah berkata: ”Tersiksanya para ulama adalah kematian hati. Sedangkan kematian hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat”.

Sahl rahimahullah berkata: “Ilmu seluruhnya adalah dunia kecuali pengamalannya. Sedangkan amal itu seluruhnya beterbangan (lenyap) kecuali amal yang ikhlas.

Firman Allah swt tentang ulama dunia,

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali Imran:187)

Firman Allah swt tentang ulama akhirat,

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imran:199)

“Barangsiapa yang menuntut ilmu dari apa yang untuk mencari keridlaan Allah Ta’ala itu untuk mencari harta benda dunia maka ia tidak mendapatkan bau syurga pada hari Kiyamat”. [HR. Abu Dawud, Ibn Majah]

“Ulama umat ini ada dua orang yaitu seseorang yang dikarunia ilmu oleh Allah lalu ia memberikannya kepada manusia dan ia tidak mengambil ketamakan (kelobaan) atasnya, dan ia tidak membeli (menukar) harga dengannya. Itulah orang yang dimohonkan rahmat oleh burung di udara, ikan di air, binatang bumi dan para malaikat yang mulia yang mencatat. Pada hari Kiyamat ia diajukan kepada Allah sebagai orang yang mulia sehingga ia menemani para rasul. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah di dunia lalu ia kikir terhadap hamba Allah, dan ia mengambil atasnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya. Orang itu pada hari Kiyamat akan dikenakan kendali dengan kendali dari api. Seorang penyeru menyeru di atas makhluk, ”Ini Fulan bin Fulan di dunia diberi ilmu oleh Allah lalu ia kikir atas para hamba-Nya, ia mengambilnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya, maka ia disiksa sehingga selesai perhitungan (amal) manusia”. [at Tabhrani]

Janganlah kamu duduk di sisi orang ‘alim kecuali orang ‘alim yang mengajakmu dari lima macam kepada lima macam, yaitu dari keraguan kepada keyakinan, dari riya’ kepada ikhlas, dari gemar (kepada dunia) kepada zuhud, dari kesombongan kepada merendahkan diri, dan dari permusuhan kepada nasihat. [HR. Abu Nuaim dan Ibnul Jauzi]

.

Sebagian ulama ada yang menyimpan ilmunya maka ia tidak senang ilmu itu didapat pada orang lain, itulah orang yang di tingkatan pertama dari neraka.

Sebagian ulama ada orang yang di dalam ilmunya seperti kedudukan raja (penguasa). Jika sedikit dari ilmunya ditolak atau diremehkan sedikit saja dari haknya maka ia marah. Itulah orang di dalam tingkat kedua dari neraka

Sebagian dari ulama ada orang yang memberikan ilmunya dan haditsnya yang asing-asing untuk orang-orang mulia dan kaya dan ia tidak melihat kepada orang yang menghajatkannya itu pantas untuk menjadi ahlinya, maka itulah (ia) di dalam tingkatan yang ketiga dari neraka.

Sebagian dari ulama ada orang yang menegakkan dirinya untuk berfatwa lalu ia memberi fatwa dengan kesalahan padahal Allah Ta’ala membenci orang-orang yang membebankan dirinya. Itulah orang yang berada di tingkat ke empat dari neraka.

Sebagian dari ulama ada orang yang berbicara dengan perkataan Yahudi dan Nasrani agar ilmunya dipandang banyak dan mengalir terus (seperti hujan deras: pent), dan itulah orang yang berada di tingkat ke lima dari neraka

Sebagian ulama ada orang yang menjadikan ilmunya sebagai keperwiraan, keutamaan dan disebut-sebut di kalangan manusia. Itulah orang yang di tingkat enam dari neraka.

Sebagian ulama ada orang yang menarik kecemerlangan dan kekaguman. Jika ia memberi nasihat maka ia kasar dan jika diberi nasihat maka ia enggan. Itulah orang yang di neraka tingkat tujuh.

.

Perbandingan antara orang yang mencari harta benda dunia dengan ahli ilmu yang mencari keridlaan Allah di dalam al Qur’an,

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al Qashash:79-80)

Maka ahli ilmu mengetahui untuk mengutamakan akhirat atas dunia.

.

b. Perbuatannya selaras dengan perkataannya

Ia tidak memerintahkan sesuatu amal perbuatan yang ia sendiri tidak mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah: 44)

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. As Shaaf: 3)

Sabda baginda Nabi saw: “Pada malam saya diperjalankan di malam hari, saya melewati suatu kaum yang bibirnya digunting dengan gunting dari api. Lalu saya bertanya: “Siapakah kamu sekalian ?”. Mereka menjawab: “Kami adalah dahulu memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami melarang kemungkaran namun kami melakukannya”. [HR. Ibnu Hibban]

Asy Sya’bi berkata: “Pada hari Kiyamat suatu kaum dari penghuni syurga menampakkan kepada suatu kaum dari penghuni neraka. Mereka bertanya kepada suatu kaum dari neraka itu: “Apakah yang menjadikan kamu masuk neraka? Kami dimasukkan oleh Allah ke syurga hanya karena keutamaan pendidikan dan ajaranmu?”. Suatu kaum dari neraka itu menjawab: “sesungguhnya dahulu kami memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami mencegah dari keburukan namun kami menjalankannya”.

Hatim al Asham rahimahullah berkata: “Pada hari Kiyamat tidak ada orang yang paling menyesal dari pada seseorang yang mengajarkan ilmu kepada manusia lalu mereka mengamalkannya sedangkan ia tidak mengamalkannya. Mereka beruntung dengan sebab pengamalan itu, sedang ia binasa”.

Ibnu Mas’ud berkata: “Akan datang suatu masa pada manusia di mana kemanisan hati dirasakan asin. Maka pada hari itu orang ‘alim dan orang yang belajar tidak mengamalkan ilmunya. Hati Ulama mereka seperti tanah kosong yang bergaram yang turun tetesan hujan, maka tidak didapatkan air tawar dari padanya. Demikian itu apabila hati ulama cinta kepada dunia dan mengutamakannya atas akhirat. Ketika itu Allah Ta’ala mencabut sumber-sumber hikmah dan memadamkan pelita-pelita petunjuk dari hati mereka. Orang ‘alim mereka memberitahukan ketika kamu bertemu dengannya bahwasanya ia takut kepada Allah dengan lidahnya sedangkan perbuatan dosa amalnya. Maka alangkah suburnya lidah dan gersangnya hati dewasa itu. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, hal itu tidak lain karena orang-orang yang mengajar itu mengajar karena selain Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang yang belajar itu belajar bukan karena Allah Ta’ala”.

Ka’ab rahimahullah berkata: “Di akhir zaman akan ada ulama yang menyuruh manusia untuk zuhud terhadap dunia, namun mereka tidak zuhud, mereka menyuruh manusia takut (kepada Allah) namun mereka tidak takut, mereka melarang dari mendatangi para penguasa namun mereka mendatangi para penguasa, mereka mengutamakan dunia atas akhirat, mereka makan dengan lidah mereka, mereka mendekati orang-orang kaya, tidak kepada orang-orang miskin. Mereka cemburu kepada ilmu sebagaimana orang-orang wanita cemburu kepada orang-orang laki-laki. Salah Seorang di antara mereka marah kepada teman duduknya apabila teman duduknya itu duduk-duduk dengan orang lain. Mereka itulah orang-orang yang tukang paksa, musuh-musuh Tuhan Yang Maha Pengasih”.

Sabda baginda Nabi saw: “Sesungguhnya syaithan barangkali menunda-nundamu dengan ilmu”. Lalu ditanyakan: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah itu ?”. Beliau SAW bersabda: “Syaithan berkata: “Tuntutlah ilmu dan jangan kamu amalkan sehingga kamu mengetahui. Senantiasa Syaithan itu berkata kepada ilmu demikian itu dan menunda-nunda terhadap amal sehingga ia mati dan tidak beramal”.[Diriwayatkan dari Anas dengan sanad yang lemah]

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, namun ilmu itu adalah takut (kepada Allah)”.

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Al Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Maka mempelajarinya ambil pengamalannya. Akan datang suatu kaum yang terdidik itu seperti saluran. Mereka bukan orang-orang pilihanmu. Orang ‘alim yang tidak mengamalkan adalah seperti orang sakit yang menyifati obat, dan seperti orang lapar yang menyifati makanan-makanan yang lezat-lezat namun ia tidak mendapatkannya”.

.

c. Ia menjauhi ilmu-ilmu yang sedikit kemanfaatannya, yang banyak perdebatan dan omong kosong.

Perhatiannya adalah untuk memperoleh ilmu yang bermanfa’at di akhirat, yang menggemarkan untuk taat.

Baginda Nabi saw bersabda: “Sebagian dari yang saya takutkan atas ummatku adalah tergelincirnya orang ‘alim dan perdebatan orang munafik mengenai Al Qur’an”. [HR. Ath Thabrani dan ibn Hibban]

Perumpamaan orang yang berpaling dari ilmu amal dan sibuk dengan perdebatan adalah seperti seseorang yang sakit dengan banyak penyakit padanya. Ia bertemu dengan seorang dokter yang pandai untuk waktu yang singkat yang dikhawatirkan kehabisan waktu. Orang yang sakit itu justru sibuk dengan menanyakan khasiat obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan, obat-obat lain dan hal-hal yang ganjil-ganjil dari dunia kedokteran; ia tinggalkan kepentingannya untuk mengobati penyakitnya. Ini adalah kebodohan.

bersambung …..

.

Sumber: Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazali.

http://orgawam.wordpress.com/2011/12/05/tanda-tanda-ulama-akhirat/

Iklan

From → Tak terkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: