Skip to content

Syi’ah Dalam Sejarah

 

Potret Kejahatan Syi’ah Dalam Sejarah

syiah-bukan-islam

Oleh: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc
(Alumni Universitas Al Azhar Mesir, Da’i di Islamic Center Bathah Riyadh KSA)

Berangkat dari akidah yang rusak dan absurd, sekte Syi’ah kerap menebar kekejian dan kebiadaban kepada kaum muslimin. Sejarah mencatat lembaran demi lembaran kelam kejahatan mereka dan tidak ada seorang pun yang dapat mengingkarinya. Berikut adalah diantara sebagian ‘kecil’ catatan sejarah kejahatan mereka yang digoreskan oleh para ahli sejarah Islam. Mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dan berhati-hati, karena sejarah seringkali terulang.

Jatuhnya Kota Bagdad

Pada tahun 656 H, Hulagu Khan, Raja Tatar berhasil menguasai kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban Islam di bawah kekuasaan Bani Abbasiyyah. Keberhasilan invansi Tatar ini tidak lepas dari peran dua orang Syi’ah. Yang pertama adalah seorang menteri pengkhianat khalifah Muktashim yang bernama Mu’yyiduddin Muhammad Ibnul Alqamy. Dan yang kedua adalah seorang ahli nujum Nashirudin Ath Thusi penasehat Hulagu.

Pada akhir kepemimpinan khalifah Mustanshir, jumlah pasukan Bani Abbasiyyah mencapai seratus ribu pasukan. Sepeninggal Mustanshir dan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muktashim, Ibnul Alqamy membuat usulan-usulan kepada khalifah untuk mengurangi jumlah pasukan dengan alasan untuk menghemat biaya. Hal itu pun diikuti oleh khalifah. Padahal itu merupakan taktik untuk melemahkan kekuatan pasukan. Hingga akhirnya jumlah pasukan hanya sepuluh ribu saja.

Pada saat yang sama, Ibnul Alqami menjalin hubungan gelap dengan Hulagu. Ia sering menulis surat kepada Hulagu dan memberinya motivasi untuk mengusai Baghdad serta berjanji akan membantunya sambil menggambarkan kondisi pertahanan Bagdad ketika itu yang semakin melemah. Itu semua ia lakukan demi memberantas sunnah, menampakkan bid’ah rafidhah dan mengganti kekuasaan dari Bani Abbasiyyah kepada Alawiyyah.

Pasukan Hulagu pun kemudian bergerak menuju Bagdad. Pasukan Khalifah baru menyadari bahwa Tatar telah bergerak masuk. Upaya penghadangan Tatar yang dilakukan oleh khalifah gagal hingga akhirnya Tatar berhasil menguasai sebagian wilayah Bagdad. Dalam kondisi itu, Ibnul Alqami mendatangi Hulagu dan membuat perencanaan dengannya kemudian kembali kepada khalifah Muktashim dan mengusulkan kepadanya untuk melakukan perdamaian seraya berkata bahwa Hulagu akan tetap memberinya kekuasaan sebagaimana yang Hulagu lakukan terhadap penguasa Romawi. Ia pun berkeinginan menikahkan putrinya dengan anak laki-laki kahlifah yang bernama Abu Bakar. Ia terus mengusulkan agar penawaran itu disetujui oleh khalifah. Maka khalifah pun berangkat dengan membawa para pembesar pemerintahannya dalam jumlah yang sangat banyak (dikatakan sekitar 1200 orang)

Khalifah menempatkan rombongannya di sebuah tenda. Lalu menteri Ibnul Alqami mengundang para ahli fikih dan tokoh untuk menyaksiakan akad pernikahan. Maka berkumpulah para tokoh dan guru Bagdad yang diantaranya adalah Muhyiddin Ibnul Jauzi beserta anak-anaknya untuk mendatangi Hulagu. Sesampainya di tempat Tatar, pasukan Tatar malah membunuhi mereka semua. Begitulah setiap kelompok dari rombongan khalifah datang dan dibantai habis semuanya. Tidak cukup sampai disitu, pembantaian berlanjut kepada seluruh penduduk Bagdad. Tidak ada yang tersisa dari penduduk kota Bagdad kecuali yang bersembunyi. Hulagu juga membunuh khalifah dengan cara mencekiknya atas nasehat Ibnul Alqami.

Pembantaian Tatar terhadap penduduk Bagdad berlangsung selama empat puluh hari. Satu juta korban lebih tewas dalam pambantaian ini. Kota Bagdad hancur berdarah-darah, rumah-rumah porak-poranda, buku-buku peninggalan para ulama dibakar habis dan Bagdad pun jatuh kepada penguasa kafir Hulagu Khan.

Selain peran Ibnul Alqami, peristiwa ini juga tidak lepas dari peran seorang Syi’ah lainnya bernama Nashirudin At Thushi, penasehat Hulagu yang dari jauh-jauh hari telah mempengaruhi Hulagu untuk menguasai kota Bagdad. [Lihat Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 13, hal. 192, 234 – 237, Al-Nujuum Al Zaahirah fii Muluuk Mishr wa Al Qahirah, vol. 2, hal. 259 – 260]

syiah-sesat

Konspirasi Syi’ah Ubaidiyyah dan Pasukan Salib

Ketika kerajaan Islam Saljuqi sedang dalam pengintaian pasukan salib, orang-orang Syi’ah Ubaidiyyah yang menamakan diri mereka sebagai Fathimiyyah memanfaatkan keadaan. Ketika pasukan salib sedang mengepung Antakia, mereka mengirim utusan kepada pasukan salib untuk melakukan kerjasama dalam memerangi kerajaan Islam Saljuqi serta membuat perjanjian untuk membagi wilayah selatan (syiria) untuk pasukan salib dan wilayah utara (palestina) untuk mereka. Pasukan salib pun menyambut tawaran itu.

Maka, terjadilah pertempuran antara pasukan salib dan pasukan Saljuqi. Saat terjadi peperangan antara pasukan Saljuqi dengan pasukan salib, orang-orang Syi’ah Ubaidiyyah sibuk untuk memperluas kekuasaan mereka di Pelestina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Saljuqi.

Akan tetapi kemudian pasukan salib mengkhianati perjanjian mereka dan merangsek masuk ke wilayah Palestina pada musim semi tahun 492 H dengan kekuatan seribu pasukan berkuda dan lima ribu invanteri saja. Pasukan Ubaidiyyah melawan mereka namun demi tanah dan diri mereka saja, bukan untuk jihad. Hingga satu per satu dari daerah Palestina jatuh ke tangan pasukan salib dan mereka pun membantai kaum muslimin. Mereka membunuhnya di depan Masjid Al Aqsha. Lebih dari tujuh puluh ribu orang tewas dalam peristiwa berdarah itu, termasuk para ulama. [Lihat Tarikh Islam, Mahmud Syakir, vol. 6, hal. 256-257, Tarikh Al Fathimiyyin, hal. 437]

Syi’ah Qaramithah

Al Hafidz Ibnu Katsir dalam (Al Bidayah wa Al Nihayah, vol. 11, hal. 149) menceritakan, di antara peristiwa pada tahun 312 H bulan Muharram, Abu Thahir Al Husain bin Abu Sa’id Al Janabi –semoga Allah melaknatnya- menyerang para jemaah haji yang tengah dalam perjalanan pulang dari baitullah dan telah menunaikan kewajiban haji. Mereka merampok dan membunuh mereka. Korban pun berjatuhan dengan jumlah yang sangat banyak –hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka juga menawan para wanita dan anak-anak mereka sekehendaknya dan merampas harta mereka yang mereka inginkan.

Ibnu Katsir juga menceritakan pada tahun 317 H, orang-orang Syi’ah Qaramithah telah mencuri hajar aswad dari baitullah. Dalam tahun itu, rombongan dari Iraq yang dipimpin orang Manshur Ad Daimamy datang ke Makkah dengan damai. Kemudian pada hari tarwiyah, orang-orang Qaramithah menyerang mereka, merampas harta dan membantainya di masjidil haram, di depan Kabah. Para jemaah haji berhamburan. Diantara mereka ada yang berpegangan dengan kain penutup Kabah. Akan tetapi itu tidak bermanfaat bagi mereka. Orang-orang Qaramithah terus membunuhi orang-orang. Setelah selesai, orang-orang Qaramithah membuang para korban di sumur zamzam dan tempat-tempat di masjidil haram.

Qubbah zamzam dihancurkan, pintu kabah dicopot dan kiswahnya dilepaskan kemudian dirobek-robek. Mereka pun mengambil hajar aswad dan membawanya pergi ke negara mereka. Selama dua puluh dua tahun hajar aswad beserta mereka hingga akhirnya mereka kembalikan pada tahun 339 H.

Syiah

Daulah Shafawiyyah (Cikal Bakal Syi’ah di Iran)

Dahulu, hampir sembilan pulun persen penduduk Iran menganut akidah ahli sunnah bermadzhab Syafi’i. Hingga pada abad ke sepuluh hijriyah tegaklah daulah Shafawiyyah dibawah kepamimpinan Isma’il Ash-Shafawi. Ia pun kemudian mengumumkan bahwa ideologi negera adalah Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyriyyah, serta memaksa para warga untuk juga menganutnya.

Ia sangat terkenal sebagai pemimpin yang bengis dan kejam. Ia membunuh para ulama kaum muslimin beserta orang-orang awamnya. Sejarah mencatat, ia telah membunuh sekitar satu juta muslim sunni, merampas harta, menodai kehormatan, memperbudak wanita mereka dan memaksa para khatib ahli sunnah untuk mencela para khalifah rasyidin yang tiga (Abu Bakar, Umar dan Ustman –semoga Allah meridhai mereka) serta untuk mengkultuskan para imam dua belas.

Tidak hanya itu, ia juga memerintahkan untuk membongkar kuburan ulama kaum muslimin dari kalangan ahli sunnah dan membakar tulang belulangnya.

Daulah Shafawiyyah berhasil memperluas kekuasaannya hingga semua penjuru daerah Iran dan wilayah yang ada di dekatnya. Ismail Shafawi berhasil menaklukkan daulah Turkimaniyyah berakidah ahli sunnah di Iran, kemudian Faris, Kirman dan Arbastan serta yang lainnya. Dan setiap peristiwa penaklukan itu, ia membunuh puluhan ribu ahli sunnah. Hingga ia pun berhasil menyerang Bagdad dan menguasainya. Ia pun melakukan perbuatan kejinya kepada ahli sunnah disana. [dinukil dari Tuhfatul Azhar wa Zallaatu al Anhar, Ibnu Syaqdim As-Syi’i via al Masyru’ al Irani al Shafawi al Farisi, hal. 20 -21]

Kejahatan Syi’ah Rafidah Sepanjang Masa

 

Wallahu ‘alam wa Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

http://akhirzaman.info/islam/syiah/2264-potret-kejahatan-syiah-dalam-sejarah.html

Iklan

sejarah munculnya faham modernis masa di saudi arabia

DINASTI SAUD : DARI MANAKAH ASALNYA MEREKA INI?DAN SIAPAKAH MOYANG KEPADA KELUARGA INI?
KAJIAN DAN PENEMEUAN OLEH: MOHAMMAD SAKHER ,seorang yang telah diperintahkan supaya dibunuh oleh rejim Saudi diatas penemuan ini:

  1. Adakah keluarga saud berasal dari kaum ANZA BEN WAEL seperti mana mereka sekarang?
  2. Adakah Islam Agama sebenar mereka?
  3. Adakah mereka berketurunan Arab?

Pada tahun 851 H ,sekumpulan lelaki dari bani AL MASALEEKH ,iaitu satu cabang dari KAUM ANZA ,membentuk satu pedati untuk membeli bijirin( gandum dan jagung) dan bahan makananan lain dai IRAQ ,dan membawanya kembali ke NAJD .Ketua kumpulan ini bernama SAHMI BIN HATHLOOL. Pedati itu sampai ke BASRA ,dimana ahli kumpulan berjumpa penjual bijirin iaitu seorang YAHUDI bernama MORDAKHAI BIN IBRAHIM BIN MOSHE.Semasa tawar menawar belangsung ,yahudi itu bertanya mereka “Dari mana asalnya kamu?”
Mereka menjawab”Dari Kaum ANZA , berkait dengan AL MASALEEKH”Setelah mendengar nama itu , yahudi itu menjadi gembira dan juga mengakui dia berasal dari kaum keluarga yang sama,tetapi terpaksa tinggal di BASRA IRAQ disebabkan persengketaan keluarga antara bapanya dan ahli keluarga kaum ANZA.

Dia kemudiannya mengarahkan hambanya untuk memenuhkan unta2 kaum kabilah tersebut dengan gandum ,kurma dan tamman;ini adalah satu budi yang menarik hati lelaki2 AL MASALEEKH dan menunjukkan kegembiraan mereka kerana berjumpa saudara di IRAQ ,sumber kepada keperluan mereka ;mereka percaya setiap apa yang dikatakan oleh yahudi itu,dan kerana beliau adalah seorang pedagang makanan yang kaya(yang mereka sangat perlukan)walaupun dia adalah seorang yahudi yang bersembunyikan di sebalik imej ARAB dari kabilah AL MASALEEKH.

Apabila pedati tersebut telah bersedia untuk bertolak ke NAJD,pedagang yahudi tersebut meminta izin mereka untuk menemani mereka ,kerana dia ingin pergi bersama mereka ke tanah asal mereka NAJD.Setelah mendengar dari lelaki yahudi itu,mereka amat berbesar hati dan menyambut mereka dengan hati yang sangat gembira.

JAdi,Yahudi yang menyamar itu tiba di NAJD dengan pedatinya.Di NAJD,dia memulakan untuk menyebarkan banyak propaganda untuk dirinya melalui sahabat2 sahabatnya(Sepupu tipunya ),setelah itu,berkumpullah ramai para penyokongnya;tetapi tanpa disangka,dia berhadapan dengan kempen penentangan terhadap fahamannya oleh SHEIKH SALEH SALMAN ABDULLAH AL TAMIMI, seorang pendakwah di AL-QASEEM.
Jarak penyebaran ajarannya termasuk NAJD ,Yaman dan Hijaz,sesuatu yang memaksa yahudi itu (keturunan dari KELUARGA SAUD sekarang )untuk berpindah dari AL QASEEM ke AL IHSA,Di mana kemudiannya dia menukar namanya (MORDAKHAI ) kepada MARKHAN BIN IBRAHIM MUSA.Kemudia dia menukar lokasi penempatannya dan menetap di sebuah tempat bernama DIR`IYA berdekatan AL-QATEEF,di mana dia bermula untuk menyebarkan kepada penduduk tempatan dengan dusta mengatakan perisai kepada nabi MUhammad SAW telah diambil sebagai barangan rampasan(curi) oleh seorang arab pagan (musyrikin) hasil daripada perang uhud antara Arab musyrikin dan Muslimin.

Katanya “Pedang itu telah dijual oleh arab musyrikin kepada kabilah kaum yahudi bernama BANU QUNAIQA` yang menyimpannya sebagai harta karun!”Dia kemudiannya mengukuhkan lagi kedudukannya di kalangan Badwi melalui cerita2 dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak kepada penghormatan tinggi.Dia mengukuhkan lagi kedudukannya di kalangan Badwi,dan mengambil keputusan untuk menetap di situ,di kota DIR`IYA ,berdekatan AL- QATEEF,di mana dia mengambil keputusan untuk menjadikannya sebagai pusat di PERSIAN GULF.Dia kemudiannya mendapat idea untuk menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menubuhkan kerajaan Yahudi di tanah Arab.

Untuk memenuhi cita-citanya itu ,dia telah mendekati Arab Badwi di padang pasir utnuk memantapkan lagi posisinya,kemudian secara beransur ansur,dia kemudiannya mengisytiharkan dirnya sebagai raja kepada mereka !!

Pada ketika itu ,kabilah AJAMAN bersama kabilah BANI KHALED menjadi sangat berhati hati kerana rancangan jahat Yahudi selepas mereka mendedahkan siapa mereka yang sebenarnya,dan mengambil keputusan untuk membunuhnya.Mereka menyerang bandar lelaki yahudi itu dan menawannya,tetapi sebelum menangkapnya dia telah dapat melepaskan diri.

Oleh itu keturunan yahudi daripada KELUARGA SAUD (MORDAKHAI),mencari perlindungan di sebuah ladang bernama AL-MALIBEED-GHUSAIBA berdekatan AL-ARID, yang sekarang ini bernama : AL-RIYADH.

Dia kemudiannya meminta kepada tuan ladang tersebut untuk memberikannya sebuah perlindungan.Tuan ladang itu berasa sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung.Tetapi kemudiannya yahudi itu (MORDAKHAI) ,hanya tinggal selama sebulan di situ,setelah yahudi itu membunuh tuan ladang tersebut dan semua ahli keluarganya..dan berpura pura dengan menyataka mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menceroboh.Dia kemudiannya berpura pura menyatakan bahawa dia telah membeli ladang tersebut dari tuan tanah sebelum malapetaka tersebut datang kepada mereka! Setelah merampas tanah tersebut,dia menamakannya ALDIR`IYA ,sama nama dengan tempat yang pernah dimilikinya.

Keturunan Yahudi daripada KELUARGA SAUD (MORDAKHAI) dengan cepat menubuhkan “GUEST HOUSE” bernama “MADAFFA” di tanah yang dirampasnya dari mangsa,dan mengumpulkan di sekelilingnya sekumpulan munafiq yang kemudiannya menyebarkan propaganda dusta yang mengatkan bahawa dia adalah SYEKH (ketua) ARAB yang disegani.Dia mengisytiharkan permusuhan terhadap Sheikh SALEH SALMAN ABDULLA AL TAMIMI, mush tradisinya, dan dia juga telah menyebabkan pembunuhan beliau di sebuah masjid bernama (AL-ZALAFI).

Kemudian dia berasa amat puashati dan selamat untuk mewujudkan (AL-DIR`IYA) sebagai rumah tetapnya.Di situ dia mengamalkan poligami pada tahap teruk ,dan juga melahirkan ramai anak yang kemudiannya di berikan nama nama Arab kepada anak-anaknya.

Kemudian ,kaum kerabatnya semakin bertambah dan kuasa di bawah nama Kaum SAUDI ,mereka telah mengikuti jejak langkahnya mengamalkan aktiviti haram dan konspirasi terhadap negara Arab.Mereka telah merampas tanah terpencil dan ladang2,dan membunuh setiap orang yang cuba menentang rancangan jahat mereka .Mereka menggunakan apa sahaj tipu helah untuk mencapai matlamat mereka;mereka merasuah; menawarkan wanita dan wang kepada orang yang berpengaruh di kawasan itu,jelasnya untuk sesiapa yang memulakan utnuk menulis biografi sebenar keluarga Yahudi itu;mereka merasuah penulis untuk menyucikan sejarah hitam mereka ,dan juga menghampirkan asal ketrunan mereka kepada kabilah arab seperti RABI’A, ANZA and ALMASALEEKH.

Munafik yang sangat jelas di zaman kami adalah MOHAMMAD AMIN AL TAMIMI- pengarah/pengurus kepada perpustakaan terbaru kerajaan SAUDI ,dia mereka-reka asal usul keturunan kepada KELUARGA YAHUDI (SAUDI) dengan mengatakan ianya berhubung kepada Nabi Junjungan kita Muhammad SAW.Untuk kerja kotornya itu,dia telah di anugerahkan 35 RIBU POUND MESIR dari KEDUTAAN SAUDI UNTUK KAHERAH ,MESIR pada tahun 1362 H atau 1943 M. Nama duta tersebut adalah IBRAHIM AL- FADEL.

Seperti yang telah disebutkan sebelum ini ,keluarga YAHUDI iaitu KELUARGA SAUD(MORDAKHAI), mengamalkan poligami dengan mengahwini ramai wanita arab dan mendapat ramai anak:amalan poligaminya itu pada masa ini telah diteruskan oleh keturunannya,mereka berpegang kepada warisan perkahwinan itu!

Salah seorang anak MORDAKHAI bernama AL-MAQARAN,di ‘arabkan’ dari keturunan YAHUDI (MACK-REN) dan mendapat anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama SAUD,iaitu nama kepada DINASTI SAUDI sekarang.

Keturunan SAUD (KELUARGA SAUDI sekarang) memulakan kempen pembunuhan ketua ketua kabilah arab di bawah dakwaan bahawa mereka adalah sesat,menyeleweng dari ajaran Islam , tidak mengamalkan ajaran Al Quran; JADI MEREKA BERHAK UNTUK DIBUNUH OLEH KELUARGA SAUDI !!

Didalam buku sejarah KELUARGA SAUDI mukasurat 98-101 ,ahli sejarah keluarga mereka telah mengisytiharkan bahawa DINASTI SAUD mendakwa semua penduduk NAJD adalah KUFUR;maka darah mereka adalah halal dibunuh ,harta mereka dirampas,wanita mereka dijadikan hamba seks;seseorang muslim tidak benar benar Muslim jika kepercayaannya tidak berasal dari ajara MOHAMMAD BIN ABDUL WAHAB (juga Yahudi yang berasal dari Turki)

Ajarannya memberikan kuasa kepada KELUARGA SAUDI untuk memusnahkan kampung2 mereka -lelaki termasuk kanak kanak,merogol wanaita mereka ;menikam perut wanita hamil,memotong tangan anak mereka dan kemudian membakar mereka!! MEreka kemudiannya disahkan lagi oleh AGAMA SAMSENG WAHABI untuk merampas harta penentang mereka(yang tidak mengikuti agama WAHABI)
Keluarga Hodoh YAhudi ini malah telah melakukan banyak kezaliman dibawah nama ajaran sesat WAHABI yang dicipta oleh YAHUDI untuk menyemai benih kekejaman di hati manusia.DINASTI YAHUDI ini telah meakukan kekejaman sejak 1163 H .Mereka telah menamakan semula semenanjung tanah Arab sempena nama keluarga mereka (ARAB SAUDI) sebagai sebuah negara kepunyaan mereka ,dan segala penduduk adalah hamba mereka ,bekerja keras untuk kemewahan mereka (KELUARGA SAUD).

MEREKA telah memiliknegarakan semua kekayaan negara tersebut sebagai harta peribadi.Jika ada orang miskin dari orang kebanyakan menaikkan suaranya mengkritik undang undang kuku besi DINASTI YAHDI tersebut,(diansti tersebut) akan memenggal kepalanya di hadapan khalayak.Seorang puteri mereka telah melawat FLORIDA USA bersama sama para penasihatnya,dia telah menyewa 90 peratus Bilik MEWAH (suite) di Grand Hotel untuk SATU JUTA DOLAR satu malam!!!Bolehkan seseorang menentang pembaziran ini walaupun mereka tahu mereka akan DIPENGGAL DI KHALAYAK RAMAI!!!!


SAKSI KEPADA KETURUNAN YAHUDI -KELUARGA SAUD :

Pada tahun 1960,”SAWT AL ARAB” stesen penyiaran di Kaherah ,Mesir ,dan Stesen penyiaran Yaman di Sana`a telah memastikan@membenarkan bahwa Keluarga SADI adalah dari keturunan YAHUDI.

Raja FAISAL AL SAUD pada masa itu tidak dapat menafikan bahawa keluarganya sangat baik hati dengan YAHUDI apabila beliau mengisytiharkan WASHINGTON POST pada 17 SEPT 1969 menyatakan”KAMI ,KELUARGA SAUDI ,ADALAH SAUDARA kepada yahudi,kami sepenuhnya tidak bersetuju dengan mana mana Pihak Berkuasa Arab atau Muslim yang menunjukkan pertentangan tehadapYahudi,Kita mestilah hidup bersama mereka dengan kasih sayang.Negara kami (Arab saudi)adalah pencetus kepada keturunan YAHUDI dan keturunannya telah tersebar ke seluruh dunia”Ini adalah deklarasi dari RAJA FAISAL AL – SAUD BIN ABDUL AZIZ !!!!

HAFEZ WAHBI, Penasihat kepada SAUDI ,menyatakan dalam bukunya bertajuk “SEMENANJUNG TANAH ARAB”bahawa RAJA ABDUL AZIZ AL- SAUD ,mati pada 1953 telah menyatakan”Ajaran Kami(Ajaran Saudi) mendapat tentangan dari seluruh kabilah Arab.Datuk kami SAUD AWAL ,setelah memenjarakan ramai ketua kabilah MATHEER,apabila kunpulan lain dari kabilah sama datang untuk membebaskan banduan bandua ,SAUD AWAL memerintahkan supaya orangnya memenggal kepala semua banduan,kemudian dia cuba memalukan mereka dengan menjemput mereka makan dari tempat duduk yang dibuat dari daging mangsa nya yang telah dipenggal dimana kepala2 mereka telah diletakkan diatas pinggan makanan!!!! Rombongan tersebut menjadi sedar dan enggan memakan danging saudara mereka ,kemudiannya dia memerintahkan orangnya untuk memenggal kepala rombongan tersebut itu juga.Jenayah jelik ini dilakukan oleh raja tersebut kepada manusia yang tidak bersalah di mana kesalahan mereka ialah menentang kekejaman raja tersebut.

HAFEZ WAHABI ,menyatakan lebih jelas bahawa RAJA ABDUL AZIZ AL-SAUD berkaitrapat dengan dengan kisah benar tentang ketua2 Kabilah Matheer,yang melawatnya untuk membebaskan ketua mereka pada masa itu FAISAL AL-DARWEESH ,seorang tahanan raja itu.Dia mengaitkan kisah tersebut kepada mereka supaya mengelakkan mereka dari meminta pembebasan ketua mereka,jika tidak mereka akan menimpa nasib yang sama;Dia telah membunuh Syekh tersebut dan menggunakan darahnya untuk berwudu` sebelum menunaikan solat(solat agama WAHABI). Kesalahan FAISAL AL DARWESH pada ketika itu adalah mengkritik RAJA ABDUL AZIZ AL SAUD apabila raja itu menandatangani dokumen dimana pihak berkuasa Inggeris yang disediakan pada 1922 sebagai deklarasi untuk memberikan PALESTINE kepada YAHUDI;tandatangannya telah diterima dalam persidangan yang berlangsung di AL AQEER pada 1922.

Itu adalah sistem Rejim ini dan masih lagi diamalkan oleh KELUARGA YAHUDI (KELUARGA SAUDI).MAtlamtnya adalah ;merampas harta kekayaan negara,merompak,menipu,dan melakukan pelbagai jenis kekejaman ,kezaliman,dan kekufuran- semua itu dilakukan dengan kerjasama agama yang mereka cipta -WAHABI yang membenarkan pemenggalan kepala penentang mereka.

JIHADWAHABI

http://jihadwahabi.blogspot.com/

Artikel ini telah dialihbahasa dari http://www.fortunecity.com/boozers/bridge/632/history.html
Sebarang teguran dari segi penterjemahan adalah amat di alu- alukan.

jangan-jangan hasil ijtihad juga di bilang bid’ah

1. Saidina Umar berpendapat bahawa tidak batal puasa seseorang yang berkucup dengan isterinya, kerana mengqiyaskan dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).

2.  Dalam menetapkan satu miqad baru iaitu Zatu Irq bagi jemaah Haji atau Umrah yang datang dari sebelah Iraq, Saidina Umar mengqiyaskannya dengan tempat yang setentang dengannya iaitu Qarn al Manazil. Sedangkan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam hanya menetapkan empat tempat sahaja sebagai miqat tetapi Saidina Umar menambah satu lagi iaitu Zatu Irq (menjadi lima). (LIhat al Mughni, jld 3, m.s 3 258 dan Fath al Bari m.s 389)

3. Saidina Uthman mewujudkan azan dua kali (pertama dan kedua) pada hari Jumaat diqiyaskan dengan azan 2 kali pada solat subuh dengan alasan bahawa azan yang pertama pada Solat Subuh disyariatkan pada zaman RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam untuk mengejutkan mereka yang sedang tidur, maka begitu juga azan yang pertama pada solat Jumaat untuk mengingatkan mereka yang sedang sibuk berniaga di pasar dan yang bekerja (Nailul al Authar : 3/322)

4. Jumhur ulama mengharuskan dua solat sunat yang bersebab pada waktu yang makruh diqiyaskan dengan solat sunat selepas Zohor yang diqadha’ oleh RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam selepas Solat Asar ( Lihat al Nawawi, Syarah sahih Muslim: 6/111)

5. Menurut Imam Ahmad dalam satu riwayat daripadanya, dibasuh setiap benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air tanah, kerana beliau mengqiyaskannya dengan sesuatu yang terkena najis anjing atau babi (Al Mughni: 1/54-55)

6. Menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, diwajibkan berdiri sekadar yang termampu bagi sesiapa yang tidak mampu berdiri dengan sempurna ketika solat samada kerana ketakutan atau kerana atap hendak roboh diqiyaskan dengan hukum berdiri seorang yang bongkok. (Al Mughni: 2/144)

7. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)

8. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)

9. Imam Malik membolehkan qadha’ solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)

10. Imam Abu Hanifah, Ath Thauri dan Al Auza’ie membolehkan lewat solat bagi mereka yang tidak menemui air dan tanah sehinggalah menemuinya, kemudian mengqadha’nya diqiyaskan dengan melewatkan puasa bagi wanita yang kedatangan haid (Al Mughni: 1/267)

Ini hanya sebahagian kecil daripada sebilangan besar persoalan ibadah yang dikeluarkan hukumnya berdasarkan kaedah qiyas. Qiyas ini adalah ijtihad dan pandangan. Oleh itu, sesiapa yang melarang menggunakan qiyas di dalam ibadah secara mutlaq, maka pendapatnya tidak dapat diterima sebagaimana yang dinyatakan tadi.

Ibnu Umar radiyaLlahu anhu berpendapat, solat Sunah Dhuha tidak digalakkan di dalam syariat Islam melainkan bagi mereka yang tiba dalam permusafiran. Beliau hanya mengerjakannya ketika tiba di Masjid Quba. Ini diriwayatkan oleh Al Bukhari daripada Mauriq katanya :

“Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar RadiyaLlahu ‘anhu.” Adakah kamu bersolat Dhuha? Beliau menjawab “Tidak”, Aku bertanya lagi “Adakah Umar mengerjakannya?” Beliau menjawab “Tidak”. Aku bertanya lagi ” Abu Bakar?” Jawabnya: “Tidak” Aku bertanya lagi: “RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam?” Jawabnya “Aku tidak pasti”.

Menurut al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani:“Sebab tawaqqufnya Ibnu Umar pada masalah itu kerana beliau pernah mendengar daripada orang lain bahawa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakannya tetapi beliau tidak begitu mempercayai perkara itu daripada seorang yang menyebut kepadanya.”.

Maka, beliau menganggap solat Dhuha adalah di antara bid’ah yang baik sepertimana yang diriwayatkan oleh Mujahid daripada beliau (Ibnu Umar).

Menurut Al A’raj:“Aku pernah bertanya Ibnu Umar berkenaan Solat Sunah Dhuha? Beliau menjawab: “Ia adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”. (Fath al Bari: 3/52)

Sepertimana yang telah dinyatakan daripada Ibnu Umar tadi, membuktikan bahawa perkara-perkara yang baharu diwujudkan dalam ibadah memang berlaku dan diakui oleh pada sahabat RadiyaLlahu ‘anhum sendiri.

Sumber : Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

Kesalahan-kesalahan Albani

Catatan kami : ‘banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh seorang yang dikatakan sebagai ‘ “Muhaddits”, sebenarnya menunjukkan kualitas dan kapasitas orang tersebut dalam ilmu hadits, serta kelayakannya sebagai orang yang disebut “muhaddits”  oleh pengikutnya sangat perlu untuk dipertanyakan, sebab kesalahan yang diperbuat ini tidaklah sedikit”, Silahkan pembaca menilainya sendiri.

 

 

Oleh : Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof

 

Al-Albani berkata dalam kitab “Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, hal. 27-28” (edisi kedelapan, Maktab al-Islami) oleh Syeikh Ibn Abi Al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), bahwa hadis apapun yang datang dari koleksi Imam Bukhori dan Imam Muslim adalah Shohih, bukan karena ia diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, tetapi karena pada faktanya hadis-hadis ini memang shohih. Akan tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan apa yang ia katakan sebelumnya, setelah ia mendhoifkan sejumlah besar hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan imam Muslim !?  Baik, marilah sekarang kita melihat bukti-buktinya :

SELEKSI TERJEMAHAN DARI JILID II

No. 1 : (Hal. 10 no. 1)

 

Hadis : Nabi SAW bersabda : ‘’Allah SWT berfirman bahwa ‘Aku akan menjadi musuh dari tiga kelompok orang : 1). Orang yang bersumpah dengan nama Allah namun ia merusaknya, 2). orang yang menjual seseorang sebagai budak dan memakan harganya, 3). Dan orang yang mempekerjakan seorang pekerja dan mendapat secara penuh kerja darinya (sang pekerja –pent) tetapi ia tidak membayar gajinya (HR. Bukhori no. 2114 –\versi bahasa arab, atau lihat juga versi bahasa inggris 3\430 hal. 236). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini dhoif dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’, 4\111 no. 4054’. Sedikitnya apakah ia tidak mengetahui bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra. !!!

 

No. 2 : (Hal. 10 no. 2)

 

Hadis : ‘Berkurban itu hanya untuk sapi yang dewasa, jika ini menyulitkanmu maka dalam hal ini kurbankanlah domba jantan !! (HR. Muslim no. 1963 – versi bahasa arab, atau lihat versi bahasa inggris 3\4836 hal. 1086). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’, 6\64 no. 6222’. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibn Majah dari Jabir ra. !!!

 

No. 3 : (Hal. 10 no. 3)

 

Hadis : Diantara manusia yang terjelek dalam pandangan Allah pada hari kiamat, adalah seorang lelaki yang mencintai istrinya dan istrinya mencintainya juga, kemudian ia mengumumkan rahasia istrinya  (HR. Muslim No. 1437 – versi bahasa arab). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 2\197 no. 2005’. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Sayid ra. !!!

 

No. 4 (Hal. 10, no. 4)

 

Hadis : “Jika seseorang bangun pada malam hari (untuk sholat malam -pent), hendaknya ia mengawali sholatnya dengan 2 raka’at yang ringan (HR. Muslim No. 768). Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu I\213 no. 718’. Walaupun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!

 

 

No. 5 : (Hal. 11 no. 5)

 

Hadis : ‘Engkau akan dibangkitkan dengan kening ,tangan, dan kaki yang bercahaya pada hari kiamat, dengan menyempurnakan wudhu ……’ (HR. Muslim No. 246). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’ 2/14 no. 1425’. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!

 

No. 6 : (Hal. 11 no. 6)

 

Hadis : ‘Kepercayaan paling besar dalam pandangan Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang tidak mengumumkan rahasia antara dirinya dan istrinya’ (HR. Muslim no. 124 dan 1437). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 2\192 no. 1986’. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud dari Abi Sayid ra. !!!

 

No. 7 : (Hal. 11 no. 7)

 

Hadis : ‘Jika seseorang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi, ia akan terlindungi dari fitnah Dajal’ (HR. Muslim no. 809). Al-AlbaniDhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 5\233 no. 5772’. Kalimat yang digunakan oleh Imam Muslim adalah ‘menghafal’ dan  bukan ‘membaca’ sebagaimana klaim Al-Albani ! Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal ! Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Nasa’i dari Abu Darda ra. (Juga dinukil oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin 2\1021 – versi bahasa inggris) !!! menyatakan bahwa hadis ini ‘

 

No. 8 : (Hal. 11 no. 8)

 

Hadis : ‘Nabi SAW mempunyai seekor kuda yang dipanggil dengan ‘Al-Lahif’’ (HR. Bukhori, lihat Fath Al-Bari li Al-Hafidz Ibn Hajar 6\58 no. 2855. Tetapi Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 4\208 no. 4489’. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sahl Ibn Sa’ad ra. !!!

 

Syeikh Al-Saqof berkata : ‘Ini merupakan kemarahan dari orang yang sakit, sedikit dari (penyimpangan –pent) yang banyak dan jika bukan karena takut akan terlalu panjang dan membosankan pembaca, saya akan menyebutkan lebih banyak contoh dari Kitab-kitabnya Al-Albani ketika membacanya. Saya mencoba membayangkan apa yang akan saya temukan jika mengkaji ulang semua yang ia tulis ?’.

Syeilh Saqof berkata : ‘Hal yang aneh dan mencengangkan adalah bahwa Syeikh Al-Albani banyak menyalahpahami sejumlah besar hadis para Ulama dan tidak mengindahkan mereka, diakibatkan pengetahuannya yang terbatas, baik secara langsung atau tidak langsung. Ia memuji dirinya sendiri sebagai sumber yang ‘tidak terbantahkan’ dan seringkali mencoba meniru para Ulama Besar dengan menggunakan sejumlah istilah seperti ‘Lam aqif ala sanadih’, yang artinya ‘Saya tidak dapat menemukan sanadnya’, atau menggunakan istilah yang serupa ! Ia juga menuduh sejumlah penghafal hadis terbaik dengan tuduhan ‘kurang teliti’, meskipun ia sendiri (yaitu Al-Albani –pent) adalah contoh terbaik untuk menggambarkannya (yaitu seorang yang bermasalah tentang ketelitiannya –pent). Sekarang akan kami sebutkan beberapa contoh untuk membuktikan penjelasan kami :

 

 

No. 9 : (Hal. 20 no. 1)

 

Al-Albani menyatakan dalam ‘Irwa Al-Gholil 6\251 no. 1847’ (dalam kaitannya dengan sebuah riwayat dari Ali ra.) : ‘Saya tidak dapat menemukan sanadnya’.

 

Syeikh Saqof berkata : ‘Sangat menggelikan ! Jika Al-Albani memang benar adalah salah satu dari Ulama dalam Islam, maka ia akan mengetahui bahwa hadis ini dapat ditemukan dalam kitab ‘Sunan Baihaqi’ 7\121 : yang diriwayatkan oleh Abu Sayid Ibn Abi Amarah, yang berkata bahwa Abu al-Abbas Muhammad Ibn Yaqub, yang berkata kepada kami bahwa Ahmad Ibn Abdal Hamid berkata bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma Ibn Kahil dari Muawiya Ibn Sua’id, ‘Saya menemukan (hadis –pent) ini dalam kitab Ayahku dari Ali ra.’ !!

 

No. 10 : (Hal. 21 no. 2)

Hadis dari Ibn Mas’ud ra. : ‘Al-Qur’an diturunkan dengan 7 dialek. Semua yang ada dalam versi ini mempunyai makna eksplisit dan implisit dan semua larangan sudah pula dijelaskan’. Al-Albani menyatakan dalam penelitiannya atas kitab ‘Mishkat Masabih 1\80 no. 238, bahwa penulis dari ‘Mishkat’ mengomentari sejumlah hadis dengan kalimat ‘Diriwayatkan dalam Sharhus Sunnah’, tetapi ketika ia meneliti ‘Bab Ilm wa Fadhoil Al-Qur’an’  ia tidak dapat menemukannya !

 

Syeikh Saqof berkata : Para Ulama Besar telah berbicara ! SALAH, sebagaimana biasanya. Saya berharap untuk meluruskan ‘penyimpangan’ ini, hanya jika ia (yaitu Al-Albani –pent) memang serius serta tertarik untuk mencari hadis ini, maka kami persilahkan ia untuk melihat Bab yang berjudul ‘Al-Khusama fi al-Qur’an’ dari Sharh-us-Sunnah’ (1/262), dan diriwayatkan juga oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya (no. 74), Abu Ya’ala dalam Musnad-nyaSharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) dan Haitami telah menyebutkannya dalam Majmu’ al-Zawaid (7/152) dan ia menisbatkannya kepada Al-Bazzar, Abu Ya’la dan Tabarani dalam Al-Autsat, yang menyatakan bahwa para perawinya adalah terpercaya’ !!!. (no.5403), At-Tahawi dalam

 

No. 12 : (Hal. 22 no. 4)

 

Al-Albani menyatakan dalam ‘kitab Shohih-nya’ ketika mengomentari Hadis no. 149 : ‘Orang beriman adalah orang yang tidak memenuhi perutnya … . Hadis ini berasal dari Aisyah ra. sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Mundhiri (3/237) dan Al-Hakim dari Ibn Abas ra.. . Saya (Albani) tidak menemukannya dalam Mustadrak al-Hakim setelah mencarinya dalam ‘bagian pemikiran’ (‘Thoughts’ section – versi bahasa inggris).

 

Syeikh Saqof berkata : ‘Tolong jangan mendorong masyarakat untuk jatuh dalam kebodohan dengan kekacauan yang engkau lakukan !! Jika engkau meneliti Kitab Mustadrak Al-Hakim (2/12), engkau akan menemukan hadis ini ! Hal ini membuktikan bahwa engkau tidak mampu untuk menggunakan indeks buku dan hafalan hadis !!!?.

 

 

No. 13 : (Hal. 23)

 

Penilaian yang lain yang juga menggelikan apa yang dilakukan oleh Albani dalam Kitab ‘Shohih-nya 2/476’, ketika mengklaim bahwa hadis : ‘Abu bakar adalah bagian dariku, sambil memegang posisi dari telingaku’, tidak ada dalam kitab ‘Hilya’.

 

Syeikh Saqof berkata : Kami menyarankan engkau untuk kembali melihat kitab “Hilya , 4/73 !”

 

No. 14 : (Hal. 23 no. 5)

 

Al-Albani berkata dalam kitab “Shahihah, 1/638 no. 365, edisi keempat : ‘Yahya ibn Malik telah diabaikan oleh enam Ulama Hadis yang Utama, karena ia tidak disebutkan dalam kitab Tahdzib, Taqrib atau Tadzhib’.

 

Syeikh Saqof berkata: ‘Ini adalah menurut persangkaanmu ! Kenyataannya sebenarnya tidak seperti itu, karena secara pasti Ia (yaitu Al-hafidz Ibn Hajar –pent) telah menyebutkannya (yaitu Yahya ibn Malik –pent) dalam Tahdhib Al-Tahdhib li Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani (12/19 – Edisi Dar El-Fikr) dengan nama kuniyah Abu Ayub Al-Maraghi’ !!!. Maka berhati-hatilah !!!

 

No. 15 : (Hal. 7)

 

Al-Albani mengkritik Imam Al-Muhadis Abu’l Fadl Abdullah Ibn Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) ketika menyebutkan dalam kitabnya “Al-Kanz Al-Thamin” sebuah hadis dari Abu Hurairah ra. yang berkaitan dengan perawi Abu Maimunah : ‘Sebarkan salam, berilah makan faqir-miskin …..’.

 

Al-Albani menyatakan dalam ‘Silsilah Al-Dhoifah, 3/492’, setelah menisbatkan hadis kepada Imam Ahmad (2/295) dan lainnya, : ‘Saya katakan bahwa sanad hadis ini ‘Dhoif’ (lemah), Daraqutni telah berkata bahwa ‘Qatada dari Abu Maimuna dari Abu Hurairah : Tidak dikenal (Majhul), dan hadisnya ditinggalkan’. Al-Albani kemudian berkata pada paragraf yang sama : ‘Sebagai catatan, sesuatu yang aneh terjadi diantara Imam Suyuti dan Al-Munawi ketika mereka meneliti hadis ini, dan saya juga telah menunjukkannya pada hadis no. 571, bahwa Al-Ghimari juga salah ketika menyebutkan hadis ini dalam ‘Al-Kanz’.

 

Akan tetapi realitanya menunjukkan bahwa Al-Albani-lah yang sebenarnya paling sering melakukan kesalahan, ketika ia membuat kontradiksi yang besar dengan menggunakan sanad yang sama dalam “Irwa al-Ghalil, 3/238”, tatkala ia berkata : ‘Dinukil oleh Imam Ahmad (2/295), Al-Hakim . . . dari Qatada dari Abu Maimuna dan ia adalah perawi yang terpercaya dalam kitab ‘Al-Taqrib’, dan Hakim berkata : ‘A Sahih Sanad’, dan Al-Dhahabi setuju dengan penilaian Imam Hakim !  Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan ini ! Lalu siapakan menurut pendapat anda yang melakukan kesalahan dan penyimpangan, apakah Al-Muhaddis Al-Ghumari (termasuk Imam Suyuti and Munawi) ataukah Al-Albani ?

 

No. 16 : (Hal. 27 no. 3)

 

Al-Albani hendak melemahkan hadis yang membolehkan para wanita memakai perhiasan emas, dimana pada sanad hadis itu terdapat seorang perawi bernama Muhammad ibn Imara. Al-Albani mengklaim bahwa Abu Hatim berkata bahwa perawi ini adalah ‘tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)’, lihat kitab “Hayat al-Albani wa-Atharu. . . jilid 1, hal. 207.”

 

Yang sebenarnya bahwa Imam Abu Hatim Al-Razi menyatakan dalam Kitabnya ‘Al-Jarh wa At-Ta’dil, 8/45’: ‘Perawi yang baik akan tetapi tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)’. Oleh karena itu, perlu dicatat bahwa Al-Albani menghilangkan kalimat ‘Perawi yang baik’ ! .

 

NB – Al-Albani telah membuat sejumlah hadis yang melarang emas untuk para wanita menjadi hadis yang shohih, walaupun sebelumnya sejumlah Ulama telah menyatakan bahwa hadis-hadis ini adalah ‘Dhoif’ dan dihapus dengan hadis lain yang membolehkan emas bagi wanita. DR. Yusuf al-Qardawi berkata dalam bukunya : ‘Islamic Awakening between Rejection and Extremism’ (judul dalam versi bahasa Inggris –pent) hal. 85: ‘Pada masa kami muncullah Syeikh Nasirudin Al-Albani dengan pendapat-pendapatnya, yang ternyata banyak bertentangan dengan kesepakatan (Ijma’) yang membolehkan para wanita untuk menghiasi dirinya dengan emas, dimana pendapat ini telah diterima oleh seluruh Madzhab selama 14 abad lamanya. Ia (yaitu Al-Albani –pent) tidak hanya menyakini bahwa hadis-hadis ini adalah shohih, akan tetapi hadis ini juga tidak dihapus (dinasakh ketentuan hukumnya -pent). Sehingga, ia menyakini bahwa hadis-hadis itu melarang cincin dan anting emas bagi wanita. Sehingga kalau demikian faktanya, maka siapakah yang menetang Ijma’ Umat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrim ?!? .

 

No. 17 : (Hal. 37 no. 1)

 

Hadis : Mahmud ibn Lubaid ra. berkata : ‘Rasul SAW telah mendapat informasi tentang seorang lelaki yang telah menceraikan istrinya sebanyak tiga kali (dalam satu duduk), kemudian beliau menjadi marah dan berkata: ‘’Apakah ia hendak mempermainkan Kitab Allah , tatkala aku masih ada diantara kalian ?, kemudian seorang lelaki berdiri dan berkata : ‘Wahai Nabi Allah, apakah saya boleh membunuhnya ?’’ (HR. An-Nasa’I).

 

Al-Albani menyatakan bahwa Hadith ini adalah ‘Dhoif’ dalam penelitiannya pada  “Mishkat al-Masabih, 2/981 (edisi ketiga, Beirut 1405 H; Maktab Al-Islami)”, ketika dia berkata : ‘Orang ini adalah terpercaya, tetapi sanadnya terputus karena ia tidak mendengar hadis ini dari ayahnya’.

 

Al-Albani kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia lakukan sebelumnya dalam Kitab-nya yang berjudul “Ghayatul Maram Takhrij Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, hal. 164, edisi ketiga, Maktab al-Islami, 1405 H”; dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah hadis yang ‘SAHIH’ !!!

 

No. 18 : (Hal. 37 no. 2)

 

Hadis : ‘Jika salah seorang dari kalian tidur dibawah (sinar) matahari dan ada bayangan menutupi dirinya, dan sebagian dirinya berada dalam bayangan itu dan bagian yang lain terkena (sinar) matahari, hendaknya ia bangun’. Al-Albani menyatakan bahwa Hadith ini ‘SAHIH’ dalam penelitiannya pada “Shahih Al-Jami’ Al-Shaghir wa Ziyadatuh (1/266/761)”, tetapi kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis ‘Dhoif’ pada penelitiannya atas kitab “Mishkat Al-Masabih, 3/1337 no. 4725, edisi ketiga”, dan ia menisbatkan hadis ini pada kitab ‘Sunan Abu Dawud’ !”

 

No. 19 : (Hal. 38 no. 3)

 

Hadis : ‘Sholat Jum’at adalah wajib bagi setiap muslim’. Al-Albani menilai bahwa Hadith ini adalah hadis ‘Dhoif’, pada penelitiannya di kitab “Mishkat Al-Masabih, 1/434”, Dan berkata : ‘Perawi hadis ini adalah terpercaya tetapi (sanadnya) tidak bersambung sebagaimana diindikasikan oleh Imam Abu Dawud’. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam Kitab “Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592”, dengan menyatakan bahwa hadis ini adalah hadis yang ‘SAHIH’ !!! Maka berhati-hatilah, Wahai orang yang bijaksana !?!

 

No. 20 : (hal. 38 no. 4)

 

Al-Albani membuat kontradiksi yang lain. Ia menganggap Al-Muharrar ibn Abu Huraira sebagai perawi terpercaya di satu tempat dan didhoifkan ditempat yang lain. Al-Albani menyatakan dalam kitab “Irwa al-Ghalil, 4/301” bahwa ‘Muharrar adalah terpercaya dengan pertolongan Allah SWT, dan Al-Hafiz (yaitu Ibn Hajar) mengomentarinya ‘Dapat diterima’, bahwa pernyataan ini (yaitu penilaian Al-Hafidz Ibn Hajar –pent) tidak dapat diterima, oleh karena itu sanadnya shohih’. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Sahihah 4/156” dimana ia menjadikan sanadnya ‘Dhoif’, dengan berkata : ‘’Para perawinya seluruhnya adalah para perawi Imam Bukhori’’ , kecuali Al-Muharrar yang merupakan salah satu perawi Imam An-Nasa’I dan Ibn Majah saja. Ia tidak dipercaya kecuali hanya Ibn Hibban, dan karena sebab itulah Al-Hafidz Ibn Hajar tidak mempercayainya, hanya saja ia berkata ‘Dapat Diterima’ ?!? Berhati-hatilah dari penyimpangan ini !!

 

No. 21: (hal. 39  no. 5)

 

Hadis : Abdullah Ibn Amr ra. : ‘Sholat Jum’at menjadi wajib bagi siapapun yang medengar seruannya’ (HR. Abu Dawud). Al-Albani menyatakan bahwa hadis adalah hadis ‘Hasan’ dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58”, Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘Dhoif’, dalam Kitab “Mishkatul Masabih 1/434 no 1375”  !!!

 

No. 22 : (Hal. 39 no. 6)

 

Hadis : Anas Ibn malik ra. berkata bahwa Nabi SAW pernah bersabda : ‘Janganlah menyulitkan diri kalian sendiri, kalau tidak Allah akan menyulitkan dirimu. Tatkala ada manusia yang menyulitkan diri mereka, maka Allah-pun akan menyulitkan mereka’ (HR. Abu Dawud).

 

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ pada penelitiannya dalam kitab “Mishkat, 1/64”, Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘Hasan’ dalam Kitab “Ghayatul Maram, Hal. 141” !!

 

No. 23 : (Hal. 40 no. 7)

 

Hadis dari Sayidah Aisyah ra. : ‘Siapapun yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi SAW buang air kecil dengan berdiri, maka jangan engkau mempercayainya. Beliau tidak pernah buang air kecil kecuali beliau dalam keadaan duduk’ (HR. Ahmad, An-Nasa’I dan At-Tirmidzi).

 

Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini adalah ‘Dhoif’ dalam “Mishkat 1/117.” Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘SAHIH’ dalam  “Silsilat Al-Ahadis Al-Shahihah 1/345 no. 201” !!!  Maka ambillah pelajaran dari ini, wahai pembaca yang mulia !?!

 

No. 24 : (Hal. 40 no. 8)

 

Hadis : Ada 3 kelompok orang, dimana para Malaikat tidak akan mendekat : 1). Mayat dari orang kafir; 2). Laki-laki yang menggunakan parfum wanita; 3). Seseorang yang melakukan jima’ (hubungan sex –pent) sampai ia membersihan dirinya’ (HR. Abu Dawud).

 

Al-Albani meneliti hadis ini dalam “Shahih Al-Jami Al-Shaghir wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056” dengan menyatakan bahwa hadis ini ‘HASAN’ pada penelitian dalam kitab “Al-Targhib 1/91” [Ia juga menyatakan hadis ini ‘Hasan’ pada bukunya yang diterjemahkan dakam bahasa inggris dengan judul ‘The Etiquettes of Marriage and Wedding, hal. 11]. Kemudian ia membuat pertentangan yang aneh dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘Dhoif’ pada penelitiannya dalam kitab “Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464” dan menegaskan bahwa para perawi hadis ini adalah terpercaya, namun sanadnya ada yang terputus antara Al-Hasan Al-Basri dan Ammar ra., sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Mundhiri dalam Kitab ‘Al-Targhib (1/91)’ !?!

 

No. 25 : (Hal. 42 no. 10)

 

Imam Malik meriwayatkan bahwa ‘Ibn Abbas ra. biasanya meringkas sholatnya pada jarak perjalanan antara Makkah dan Ta’if atau Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah’ . . . .

 

Al-Albani mendhoif-kan hadis ini dalam kitab “Mishkat, 1/426 no. 1351”, tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis ‘SAHIH’ dalam “Irwa Al-Ghalil, 3/14” !!

No. 26 : (Hal. 43 no. 12)

Hadis : ‘Tinggalkan orang-orang Ethoipia selama mereka meninggalkanmu, karena tidak seorangpun akan mengambil harta yang berada di Ka’bah kecuali seseorang yang mempunyai dua kaki yang lemah dari Ethoipia’.

 

Al-Albani telah mendhoif-kan hadis ini dalam kitab “Mishkat 3/1495 no. 5429” dengan mengatakan bahwa : “Sanad hadis ini Dhoif’’. Tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya (sebagaimana kebiasannya), dengan mengoreksi penilaiannya atas hadis yang sama dalam Kitab “Shahihah, 2/415 no. 772.”

 

No. 27 : (Hal. 32)

 

Ia memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami dalam kitab ‘Shahih Al-Targhib wa Tarhib, hal.  63’, dimana ia berkata : ‘Saya ingin agar anda mengetahui satu hal yang membanggakan saya ……….. dimana kitab ini telah dikomentari oleh Ulama yang terhormat dan terpandang yaitu Syeikh Habib al-Rahman al-Azami” . . . dan ia juga mengatakan pada halaman yang sama, ‘’Dan yang membuatku lebih merasa senang dalam hal ini, bahwa kajian serta hasil penelitian ini ditanggapi (dengan baik –pent) oleh Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . .”

 

Al-Albani yang sebelumnya memuji Syeikh al-Azami dalam buku diatas, kemudian membuat pertentangan lagi dalam pengantar dari bukunya yang berjudul ‘Adab Az-Zufaf’ (The Etiquettes of Marriage and Wedding), edisi terbaru hal. 8, dimana ia disitu berkata : ‘Al-Ansari telah menggunakan dalam akhir dari suratnya, salah satu dari musuh As-Sunnah, Hadis dan Tauhid, dimana orang yang terkenal dalam hal ini adalah Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . . . disebabkan karena sikap pengecutnya dan sedikit mengambil dari para Ulama . . . . .”

 

NB : (Nukilan diatas berasal dari Kitab ‘Adab Az-Zufaf’ , tidak ditemukan dalam terjemahan versi bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh para pengikutnya, yang menunjukkan mereka dengan sengaja tidak menerjemahkan bagian tertentu dari keseluruhan kitab tersebut). Oleh karena itu perhatikan penyimpangan ini,

 

Wahai para pembaca yang mulia ?!?

 

 

SELEKSI TERJEMAHAN DARI JILID II

 

No. 28 : (Hal. 143  no. 1)

 

Hadis dari Abi Barza ra. : ‘Demi Allah, engkau tidak akan menemukan orang yang lebih (baik -pent) daripada diriku’ (HR. An-Nasa’I 7/120 no. 4103).

 

Al-Albani mengatakan bahwa Hadis ini adalah ‘SAHIH’ dalam kitab “Shahih Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978”, dan secara aneh menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah  ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoif Sunan Al-Nasa’i, pg. 164 no. 287.”  Maka berhati-hatilah dari penyimpangan ini ?!?

Hadis dari Harmala Ibn Amru Al-Aslami dari pamannya : ‘’Melempar batu kerikil saat ‘Jimar‘ dengan meletakkan ujung ibu jari pada jari telunjuk’’ (Shahih Ibn Khuzaimah, 4/276-277 no. 2874) .

 

Al-Albani sedikit saja mengetahui kelemahan dari hadis ini yang dinukil dalam “Shahih Ibn Khuzaimah”, (dengan berani –pent) ia mengatakan bahwa sanad hadis ini adalah ‘Dhoif’, kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘SAHIH’Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !” pada “

Hadis dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : ‘’Nabi SAW pernah ditanya tentang masalah ‘junub’ ….. bolehkah ia (yaitu orang yang sedang junub –pent) makan, minum dan tidur …..Beliau menjawab : ‘Boleh’, jika orang ini melakukan wudhu’ ” (HR. Ibn Khuzaimah no. 217 ; HR. Ibn Majah no. 592).

 

Al-Albani telah menuduh bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam komentarnya dalam “Ibn Khuzaimah, 1/108 no. 217”, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status dari hadis diatas dalam kitab “Shahih Ibn Majah, 1/96 no. 482 ” !!

 

No. 31 : (Hal. 145 no. 4)

 

Hadis dari Aisyah ra. : ‘Tong adalah tong (A vessel as a vessel), sedangkan makanan adalah makanan’ (HR. An-Nasa’I , 7/71  no. 3957).

 

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘SAHIH’ dalam “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 2/13 no. 1462”, kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Dhoif Sunan Al-Nasa’i, no. 263 hal. 157” dengan menyatakan bahwa hadis ini adalah ‘Dhoif’ !!!

 

No. 32 : (Hal. 145 no. 5)

 

Hadis dari Anas ra. : Hendaknya setiap orang dari kalian memohon kepada Allah SWT untuk seluruh kebutuhannya, walaupun untuk tali sandal kalian jika ia putus’.

 

Al-Albani menyatakan bahwa Hadis diatas adalah ‘HASAN’ dalam penelitiannya pada kitab “Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252”, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini dalam kitab “Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 dan 4948” !!!

Hadis dari Abu Dzar ra. : ‘’Jika engkau ingin berpuasa, maka berpuasalah pada tengah bulan (antara tanggal -pent)  13,14 dan 15 (tiap bulan qomariyah –pent)’’.

 

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoif  Sunan An-Nasa’i, hal. 84” dan pada komentarnya dalam kitab “Ibn Khuzaimah, 3/302 no. 2127”, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini sebagai hadis yang ‘SAHIH’ dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448” dan juga mengoreksinya dalam kitab “Shahih An-Nasa’i, 3/902 no. 4021” !!  Sungguh kontrdiksi yang sangat aneh ?!?

 

NB : (Al-Albani menyebutkan hadis ini dalam ‘Shahih Al-Nasa’i’ dan dalam ‘Dhoif An-Nasa’I’, yang membuktikan bahwa ia tidak memperhatikan apa yang telah ia lakukan dan kelompokkan). Betapa mengherankannya hal ini  !?!.

 

No. 34 : (Hal. 147  no. 7)

 

Hadis dari Sayidah Maymunah ra. : ‘’Tidak seorangpun mengambil pinjaman, maka hal itu pasti berada dalam pengetahuan Allah SWT ……  (HR. An-Nasa’I, 7\315 dan lainnya).

 

Al-Albani menyatakan dalam kitab “Dhoif An-Nasa’i, hal. 190″: ” Shahih, kecuali bagian ‘Al-Dunya’ ’’. kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 5/156”, dengan mengatakan bahwa seluruh hadis ini adalah ‘SAHIH’, termasuk bagian ‘Al-Dunya’. Lihatlah sungguh sebuah kontradiksi yang menakjubkan ?!?

Hadis dari Buraida ra. : ‘’Kenapa aku melihat engkau memakai perhiasan para penghuni neraka’’ (maksudnya adalah cincin besi) (HR. AN-Nasa’I 8/172 dan lainnya).

Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini adalah ‘Shohih’ dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540”, kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoif  An-Nasa’I , hal.  230” !!!

Hadis dari Abu Hurairah ra. : ‘’Siapapun yang membeli karpet untuk tempat duduk, maka ia punya waktu 3 hari untuk meneruskan atau mengembalikannya dengan catatan tidak ada noda coklat pada warnanya ‘’ (HR. An-Nasa’I  7/254 dan lainnya).

 

Al-Albani mendhoifkan hadis ini yang ditujukkan pada bagian lafadz ‘3 hari’ yang terdapat dalam kitab “Dhoif Sunan An-Nasa’i, hal. 186”, dengan mengatakan : ‘’ Benar, kecuali bagian ‘3 hari’ ‘’. Akan tetapi kontradiksi yang ‘jenius’ kembali ia lakukan dengan mengoreksi kembali status hadis ini dan termasuk bagian lafadz ‘3 hari’ dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 5/220 no. 5804”.  Jadi sadarlah (Wahai Al-Albani) ?!?

 

No. 37 : (Hal. 148 no. 10)

 

Hadis dari Abu Hurairah ra. : ‘Barangsiapa mendapatkan satu raka’at dari sholat Jum’at maka ia telah mendapatkan (seluruh raka’at -pent)’ (HR. Ibn Majah 1/356 dan lainnya).

 

Al-Albani mendhoifkan hadis ini dalam kitab “Dhoif Sunan An-Nasa’i, no. 78 hal. 49”, dengan mengatakan : “Tidak normal (Syadz), dimana lafadz ‘Jum’at’ disebutkan’’ (dalam hadis ini –pent). Kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis ‘Shohih’, termasuk bagian lafadz ‘Jum’at’ dalam kitab “Irwa, 3/84 no. 622 .”  Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan-kesalahanmu ?!?

 

 

AL-ALBANI DAN BERBAGAI KONTRADIKSI YANG IA LAKUKAN DALAM MENILAI PERAWI HADIS

KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani berkata dalam “Shahihah, 3/481” : “Kanaan dianggap hasan, karena ia didukung oleh Ibn Mu’in’’. Al-Albani kemudian membuat pertentangan bagi dirinya dengan mengatakan, ‘’Hadis dhoif karena Kanaan” (Lihat Kitab “Dhoifah, 4/282”)!!

MAJA’A IBN AL-ZUBAIR : – Al-Albani telah mendhoifkan Maja’a dalam “Irwa al-Ghalil, 3/242”, dengan mengatakan bahwa: ’’ Sanad ini lemah karena Ahmad telah berkata : Tidak ada yang salah dari Maja’a, dan Daruqutni  telah melemahkannya …..’’.

 

Al-Albani kemudian membuat kontradiksi lagi dalam kitab “Shahihah, 1/613”, dengan mengatakan : ‘‘Orang ini (perawi hadis) adalah terpercaya kecuali Maja’a, dimana ia adalah seorang perawi hadis yang baik’’. 

 

Sungguh kontradiksi yang ‘menakjubkan’ !?!

UTBA IBN HAMID AL-DHABI : – Al-Albani telah mendhoifkannya dalam kitab “Irwa Al-Ghalil, 5/237”, dengan mengatakan : ‘Dan ini adalah sanad yang dhoif karena tiga sebab ……. Salah satunya adalah sebab kedua, karena lemahnya Al-Dhabi, Al-Hafiz berkata : ‘’perawi yang terpercaya namun sering salah (dalam meriwayatkan hadis –pent)’’.

 

Al-Albani kembali membuat kontradiksi yang sangat aneh dalam kitab “Shahihah, 2/432”, dimana ia menyatakan bahwa sanad yang menyebutkan Utba : ‘’Dan ini adalah sanadnya hasan, Utba ibn Hamid al-Dhabi adalah perawi terpercaya namun sering salah, dan sisanya dalam sanad ini adalah para perawi yang terpercaya  ???

UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab “Shahihah, 1/371”, dimana ia berkata : ‘’Ia sendiri sebetulnya adalah terpercaya namun ia pernah melakukan pemalsuan yang sangat buruk yang membuatnya tidak terpercaya….’’. Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Sahihah, 2/259” dengan menerimanya dan menggambarkannya sebagai perawi yang terpercaya pada sanad yang didalamnya menyebutkan Umar ibn Ali. Al-Albani berkata : ‘’Dinilai oleh Al-Hakim, yang berkata : ‘A shohih isnad (sanadnya shohih –pent)’, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya, dan hadis (statusnya –pent) ini sebagaimana yang mereka katakan (yaitu hadis shohih –pent).’’ Sungguh ‘menakjubkan’ !?!

 

 

ALI IBN SA’EED AL-RAZI : Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab “Irwa, 7/13”, dengan menyatakan : “Mereka tidak mengatakan sesuatu yang baik tentang al-Razi.” Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab-nya yang lain yang ‘menakjubkan’ yang ia karang yaitu kitab “Shahihah, 4/25”, dengan berkata : “Ini sanad (hasan) dan para perawinya adalah terpercaya’’. Maka berhati-hatilah ?!?

RISHDIN IBN SA’AD : Al-Albani berkata dalam kitabnya “Shahihah, 3/79” : “Didalamnya (sanad) ada perawi bernama Rishdin ibn Sa’ad, dan ia telah dinyatakan terpercaya”. Tetapi ia kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa ia adalah ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoifah, 4/53”; dimana ia berkata : “Dan Rishdin ibn Sa’ad adalah Dhoif”. Maka berhati-hatilah dengan hal ini !!

ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA’AD : Sungguh aneh pernyatan Syeikh Albani ini ?!? Dia berkata dalam kitab “Irwa A-Ghalil, 2/228”: ‘Statusnya tidak diketahui dan hanya Ibn Hibban yang mempercayainya’’. Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri sebagaimana biasanya ! karena ia hanya menukil dari kitab dan tidak ada hal lain yang ia lakukan, kemudian ia sebatas menukilnya tanpa pengetahuan yang memadai, hal ini terbukti dalam kitab “Shahihah, 1/450”, dimana ia berkata mengenai Ashath : ‘’Terpercaya’’. Sungguh ‘menakjubkan’ apa yang ia lakukan !?!

IBRAHIM IBN HAANI : Yang mulia ! Yang Jenius ! Sang Peniru !  telah membuat Ibrahim Ibn Hani menjadi perawi terpercaya disatu tempat dan menjadi tidak dikenal (majhul) ditempat yang lain. Al-Albani berkata dalam kitab ‘Shahihah, 3/426’: “Ibrahim ibn Hani adalah terpercaya’’, Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri seperti yang ia tulis didalam kitab “Dhoifah, 2/225”, dengan menyatakan bahwa ‘ia tidak dikenal dan hadisnya tertolak’ ?!?

AL-IJLAA IBN ABDULLAH AL-KUFI : Al-Albani telah meneliti sebuah sanad kemudian menyatakan bahwa sanad tersebut baik dalam kitab “Irwa, 8/7”, dengan kalimat : ‘’Dan ini adalah sanad yang baik, para perawinya terpercaya, kecuali untuk Ibn Abdullah Al-Kufi yang merupakan orang yang terpercaya’’. Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri dengan mendhoifkan sanad yang didalamnya terdapat Al-Ijla dan menjadikan keberadaannya (yaitu Al-Ijla –pent) untuk dijadikan sebagai alasan bahwa hadis itu ‘Dhoif’ (Lihat kitab ‘Dhoifah, 4/71’); dimana ia berkata :’’ Ijla Ibn Abdullah adalah lemah’’. Al-Albani lalu menukil pernyataan Ibn Al-Jauzi (Rahimahullah), dengan mengatakan bahwa : ‘’Al-Ijla tidak mengetahui apa yang ia katakan’’ ?!?

ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani telah mengkritik Al-Hafiz Al-Haitami, Al-Hafiz Al-Suyuti, Imam Munawi and Muhaddis Abu’l Fadl Al-Ghimari (Rahimahullah) dalam bukunya “Silsilah Al-Dhoifah, 4/302”, ketika meneliti sebuah sanad hadis yang didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih. Ia berkata di halaman 300 : ‘’Bagaimana sebuah hadis yang  didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih akan menjadi baik dan hadisnya menjadi bagus, meskipun ia banyak melakukan kesalahan dan ketelitiannya yang kurang, serta ia pernah memasukkan sejumlah hadis yang bermasalah dalam kitabnya, dan ia menukil hadis-hadis itu tanpa mengetahui (status –pent) darinya’’. Ia tidak menyebutkan bahwa  Abdullah Ibn Salih adalah salah seorang dari perawi Imam al-Bukhari (yaitu para perawi yang digunakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shohih-nya -pent), hanya karena hal ini ‘tidak cocok dengan seleranya’, dan ia juga tidak menyebutkan bahwa Ibn Mu’in dan sejumlah kritikus hadis ternama telah menyatakan bahwa mereka adalah ‘terpercaya’. Tetapi kemudian ia menentang dirinya sendiri pada bagian lain dari kitabnya dengan menjadikan hadis yang didalam sanadnya terdapat Abdullah Ibn Salih sebagai hadis yang baik, dan inilah nukilannya :

 

Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Shahihah, 3/229″ : “Dan sanad hadis ini baik, karena Rashid ibn Sa’ad adalah terpercaya menurut Ijma’ (kesepakatan para Ulama hadis –pent), dan siapakah yang lebih darinya sebagai perawi dari hadis Shohih, dan didalamnya terdapat Abdullah Ibn Salih yang pernah mengatakan sesuatu yang tidak membahayakan dengan pertolongan Allah SWT’’ ?!? Al-Albani juga berkata dalam “Sahihah, 2/406” tentang sanad yang didalamnya terdapat Ibn Salih : “Sanadnya baik dalam hal ketersambungannya’’ dan ia katakan lagi dalam kitab “Shahihah  4/647” : ‘’Hadisnya baik karena bersambung’’.

PENUTUP

Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Yang Terhormat Al-MuhaddisSyeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani’ oleh ‘Al-Alamah Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof’ dimana dalam kitab-nya tersebut beliau (Rahimahullah) menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar ‘Al-Muhaddis’ (Ahli Hadis) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadis dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaik’h yang memang ahli dalam bidang ini. Dan Para Ulama telah menetapkan kriteria yang ketat agar hanya benar-benar hanya ‘orang yang memang memenuhi kriteria sajalah’ yang layak menyadang gelar ini seperti yang diungkapkan oleh Imam Sakhowi tentang siapa Ahli Hadis (muhaddis) itu sebenarnya : “Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis), dan mengomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan. Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi –pent) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis. Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai-pent ) perhiasan lu’lu (permata-pent) dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni –pent). Dan hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya ,bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddis bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam’’ ( Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1\hal. 40-41). Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah ‘Para Muhaddis’ generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’I, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi ,Imam Ibn Hibban dll. Sehingga apakah tidak terlalu berlebihan (atau bahkan termasuk Ghuluw –pent) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dkk –pent) dengan sebagian Syeikh yang tidak pernah menulis hadis, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan, melakukan perjalanan mencari hadis atau bahkan memberikan kontribusi pada perkembangan Ilmu hadis yang mencapai seribu karangan lebih !?!!. Sehingga bukan Sunnah Nabi yang dibela dan ditegakkan, malah sebaliknya yang muncul adalah fitnah dan kekacauan yang timbul dari pekerjaan dan karya-karyanya, sebagaimana contoh-contoh diatas. Ditambah lagi dengan munculnya sikap arogan, dimana dengan mudahnya kelompok ini menyalahkan dan bahkan membodoh-bodohkan para Ulama, karena berdasar penelitiannya (yang hasilnya (tentunya) perlu dikaji dan diteliti ulang seperti contoh diatas), mereka ‘berani’ menyimpulkan bahwa para Ulama Salaf yang mengikuti salah satu Imam Madzhab ini berhujah dengan hadis-hadis yang lemah atatu dhoif dan pendapat merekalah yang benar (walaupun klaim seperti itu tetaplah menjadi klaim saja, karena telah terbukti berbagai kesalahan dan penyimpangannya dari Al-Haq).

 

Oleh karena itu para Ulama Salaf Panutan Umat sudah memperingatkan kita akan kelompok orang yang seperti ini sbb :

 

– Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermadzab Hanafi menukil pendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya ‘Daf’ Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam’, hal. 15 : ‘’Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan ,padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan madzab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah madzab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadis Rasul SAW. Padahal hadis ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya. Dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang ‘’.

 

– Al-Hafidz Ibn Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami’ Bayan Al-Ilmu, juz 2\hal. 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibn Laila’’ Seorang tidak dianggap memahami hadis kalau ia mengetahui mana hadis yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan’’. bahwa ia berkata :

 

– Al-Qodhi Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2\hal. 427; Ibn Wahab berkata : ‘’Kalau saja Allah tidak menyelamatkanku melalui Malik Dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, ‘Aku banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata : ‘’Ambillah dan tinggalkan itu’’.

 

– Imam Malik berpesan kepada kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); ’’Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadis) serta mempelajarinya ?, Mereka menjawab : ‘Ya’ , Beliau berkata : Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadis ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam ‘’. Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanadnya dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqih juz II\hal. 28.

 

– Al-Khotib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih, juz II\hal. 15-19, duatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzniy, pewaris ilmu Imam Syafi’i. Pada bagian akhir Al-Muzniy berkata : ’’ Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqoha agar kalian menjadi ahli fiqh’’.

 

– Dalam kitab Tartib Al-Madarik juz I\hal. 66, dengan penjelasan yang panjang dari para Ulama Salaf tentang sikap mereka terhadap As-Sunnah, a.l :

 

a- Umar bin Khotab berkata diatas mimbar: ’’Akan kuadukan kepada Allah orang yang meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan yang diamalkan’’.

 

b- Imam Malik berkata : ’’Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah menyampaikan hadis-hadis, lalu disampaikan kepada mereka hadis dari orang lain, maka mereka menjawab : ’’Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini. Tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini‘’ .

 

c- Ibn Hazm berkata: Abu Darda’ pernah ditanya : ’’Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadis begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab: ’’Saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamalannya tidak seperti itu” .

 

d- Ibn Abi zanad , “Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha untuk menanyai mereka tentang sunnah dan hukum-hukum yang diamalkan agar beliau dapat menetapkan. Sedang hadis yang tidak diamalkan akan beliau tinggalkan, walaupun diriwayatkan dari para perawi yang terpercaya’’. Demikian perkataan Qodhi Iyadh.

 

e- Al- Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala Kholaf’\hal.9, berkata: ”Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadis sesungguhnya mengikuti hadis shohih jika hadis itu diamalkan dikalangan para Sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan’’.

 

Sehingga cukuplah hadis dari Baginda Nabi SAW berikut untuk mengakhiri kajian kita ini, agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya :

 

أبي هريرة قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم ثم سيأتي على الناس سنوات خداعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيها الرويبضة; قيل و ما الرويبضة ;قال الرجل التافه في أمر العامة

 

Artinya : ‘’Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya : ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’ ?. Beliau menjawab : ‘’Orang bodoh\pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak” (HR. Al-Hakim jilid 4\hal. 512\No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadis ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2\hal. 1339\no. 4036; HR. Ahmad jilid 2\hal. 219,338\No. 7899,8440; HR. Abi Ya’la jilid 6\hal. 378\no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18\hal. 67\No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7\hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id).

 

NB : (Syeikh Saqqof kemudian melanjutkan dengan sejumlah nasihat yang penting, yang karena alasan tertentu tidak diterjemahkan, akan tetapi lebih baik bagi anda untuk menilik kembali kitab ini dalam versinya yang berbahasa arab).

 

Dengan pertolongan Allah, nukilan yang berasal dari kitab Syeikh Saqqof cukup memadai untuk menyakinkan para pencari kebenaran, serta menjelaskan siapakah sebenarnya orang yang awam dengan sedikit pengetahuan tentang ilmu hadis. Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibn Abdil Barr‘’ Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama , golongan yang tenggelam dalam ro’yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh ‘’ (menyampaikan hadis, tetapi tidak mengetahui isinya –pent) (Dirangkum dari Jami’ Bayan Al-Ilm juz II\hal. 171). Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I’lamu Al-Muwaqqi’in juz I\hal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: ’’ Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi SAW, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar”. Dan bagi anda yang tertarik untuk mengkaji ratusan contoh yang serupa dari Syeikh As-Saqqof, maka kami menyarankan kepada anda untuk menghubungi alamat berikut guna memesan Kitab ‘Tanaqadat Al-Albani A-Wadihat’  (Kontradiksi yang sangat jelas pada Al-Albani). [Harga untuk kitab jilid pertama adalah $4.00 US (dollar AS) plus pengiriman dan harga untuk jilid kedua adalah $7.00  (dollar AS) plus pengiriman]. berikut:

 

THE IMAM AL-NAWAWI HOUSE

PO BOX 925393

AMMAN

JORDAN

 

* Diterjemahkan secara bebas oleh Muhammad Lazuardi Al-Jawi

 

NB : Dinukil dan disusun secara bebas dari kitab Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof yang berjudul ‘Tanaqadat al- Albani al-Wadihat’ (Kontradiksi yang sangat jelas pada Al-Albani) oleh Syeikh Nuh Ha Mim Killer dan kawan-kawan, dalam versi bahasa Inggris dengan judul ‘AL-ALBANI’S WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM’S AHADITH’ dan makalah ini dapat diperoleh dengan mengakses situs http://www.masud.co.uk.

 

 

Apakah Ayah dan Ibu Nabi Muhammad SAW Masuk Sorga

Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم – Bahagian 1

Al-Faqir telah diminta oleh beberapa orang kawan untuk menulis satu artikel yang sangat berat bagi al-Faqir. Sehari dua lepas, seorang kenalan semasa daurah tahun lepas menalipon al-Faqir lagi dan minta supaya dituliskan juga, dan “paparkan di al-Fanshuri” katanya. al-Faqir sekadar menjawab insyaAllah. Sebelum ini juga ada pengunjung menyuarakan permintaan dishoutbox untuk menulis tajuk yang sama. Artikel yang diminta al-Faqir tulis adalah mengenai kedudukan ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Menurut mereka, ada segolongan yang bermazhab ‘tiada bermazhab’ …. (faham-faham je lah …) telah melemparkan isu yang sensitif [dan biadab] di khalayak awam iaitu … ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di neraka, ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mati dalam keadaan musyrik dan sebagainya. Bahkan salah seorang dari mufti dikalangan mereka disebuah tanah ‘arab juga berfatwa sedemikian … Ya Allah, aku berlindung denganMu dari beraqidah yang sedemikian rupa.

Memandangkan isu sensitif ini yang dilontarkan kepada masyarakat awam yang rata-rata tidak mengetahui dalil bagi pendapat yang mengatakan bahwa ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم , selamat dari azab nereka, maka al-Faqir mengambil keputusan untuk menulis sekadar pengetahuan yang ada. Maka terlebih dahulu al-Faqir memohon ampun dan maaf andaikata terdapat kesalahan dan kesilapan dalam menukilkan pendapat para ulama. Teguran dan tunjuk ajar daripada para asatizah, terlebih dahulu ucapkan terimakasih. Pada mulanya al-Faqir bercadang untuk meminta Ustaz Khuwaidim menyemaknya dahulu, tetapi memandangkan beliau sibuk dengan pengajian kilat bersama pelajar beliau, maka al-Faqir papar sekadar apa adanya sajalah.

Sebenarnya persoalan ini telah pun dijawab oleh para ulama besar ahl al-Sunnah wa al-Jamaah seperti Imam as-Sayuthi didalam kitabnya al-Ta’zim wa al-Minnah fi Anna Abawayy al-Rasul fi al-Jannah dan Masalik al-Hunafa’ fi Walidayy al-Mustafa, Abu Hafs Umar Ibn Syahin, Imam al-Qurtubi di dalam al-Tazkirah, Syaikh Ibrahim al-Baijuri didalam Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatit Tauhid, Mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah di dalam al-Bayan Lima Yusygilu al-Adzhan, Dr Abdul Malik bin Abdurrahman al-Sa’adi didalam al-Bid’ah al-Mafhum al-Islamiy al-Daqiiq dan lain-lain.

Selain itu, ulama kita juga telah menjawab persoalan ini seperti Syaikh Nawawi al-Banteni didalam Nuruz Zholam Syarah Mandzumah ‘Aqidah al-‘Awaam, Sayyid Yusuf bin ‘Ali aL-Zawawi, Mufti Terengganu didalam fatwanya yang dikeluarkan pada tahun 1971, Syaikh Muhammad Fuad Kamaluddin al-Maliki al-Rembawi didalam bukunya Wahabisma dari Neraca Syara’, Ustaz Mujahid bin Abdul Wahab didalam bukunya Keislaman Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Dan bebaru ini di ruangan bicara agama di akhbar Utusan Malaysia bertarik 9 November 2008, soalan yang sama dikemukan, dan ianya dijawab oleh Ustaz Muhammad Yusof Abas dengan baik. Al-Faqir paparkan disini untuk dikongsi bersama.

SOALAN: Adakah ibu bapa Nabi [صلى الله عليه وآله وسلم] termasuk dalam mereka yang terselamat di akhirat nanti sedangkan ada hadis yang mengatakan bahawa Baginda pernah bersabda: “Bapa kamu dan bapaku dalam neraka” – Sanusi Samsul, Taiping, Perak.

JAWAPAN: Menurut pendapat ahlul haq, mereka yang berada di antara dua masa para rasul itu (mereka yang dikenali sebagai ahlul fatrah) atau mereka yang tidak diutuskan rasul kepada mereka itu, mereka dikira terselamat dan tidak diazabkan di akhirat nanti. Ini termasuklah ibu bapa Nabi kita. Ia berdasarkan firman-Nya yang bermaksud “Kami tidak menyeksa (sesiapa) sehingga Kami utuskan Rasul dan utusan (untuk menerangkan yang benar dan salah)” (Maksud Surah al Israa’ ayat 15).

Adapun sabda Nabi [صلى الله عليه وآله وسلم] tadi yang mengatakan “Bapamu dan bapaku dalam neraka” itu dikatakan hadis ahad yang tidak dapat menolak dalil qat’ai dari al-Quran. Justeru itu para ulama kita mengatakan maksud dengan perkataan bapaku dalam hadisnya tadi boleh difahami sebagai bapa keturunan (seperti datuk neneknya, bapa saudara seperti Abu Talib dan Abu Lahab dan lainnya. Ini kerana Abu Talib adalah bapa angkat yang memelihara dan menjaganya sejak kecil lagi dan bagaimana hubungan kasih sayang yang terjalin antara anak saudara dengan bapa saudaranya itu. Menurut pendapat yang terkuat, ibu bapanya (ibu bapa nabi) adalah terselamat, malah kata para ulama lagi, seluruh datuk nenek dari keturunannya dikira dari ahlul fatrah lagi bersih dari sebarang keaiban. Ini berdasarkan sabdanya yang bermaksud: “Aku sentiasa berpindah-pindah dari benih yang suci dari satu generasi ke satu generasi yang baik-baik (tidak bercampur) bukan dari benih yang kotor dan jahat” (Riwayat Abu Nu’aim)

Malahan dikatakan ada hadis riwayat dari Urwah dari Aisyah: “Bahawa kedua ibu bapa Nabi pernah dihidupkan kerana permohonannya lalu hiduplah keduanya dan beriman dengannya lalu terus meninggal” (Riwayat Ibnu Syahin).

Kesimpulannya, akidah yang perlu dipegang ialah kedua ibu bapa Baginda adalah selamat sejahtera. Wallahualam.

Bagi al-Faqir, secara peribadinya, pertanyaan atau membangkitkan persoalan sebegini adalah merupakan satu perbuatan yang jahat adab kepada baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم, yang lahir dari seseorang yang kering hatinya daripada rasa kecintaan kepada baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Sedangkan kecintaan kepada Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم adalah merupakan qurb yang paling utama disisi Allah. Baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda:
والذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

Artinya: Demi dzat yang diriku berada didalam genggamanNya, tidak beriman seseorang dari kalian, sehingga aku lebih dia cintai daripada ibubapanya, anaknya dan manusia sekeliannya. [Hadits riwayat al-Bukhari dan Ahmad]

Salah satu tanda cinta kita kepada Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ialah dengan tidak membuat atau membangkitkan sesuatu yang menyakiti baginda صلى الله عليه وآله وسلم. Maka tidak diragukan bahawa membicarakan yang tidak baik tentang kedua ibubapa baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم, menyakiti baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Allah Ta’ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya. (Surah at-Taubah: 61)

Didalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُّهِيناً

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan untuk mereka azab seksa yang menghina. (Surah al-Ahzab: 57)

Janganlah kita menjadi seumpama kaum Yahudi yang menyakiti Nabi Musa عليه السلام , sebagaimana firman Allah:
يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ آذَوْاْ مُوسَىٰ فَبرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُواْ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهاً

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi) yang telah menyakiti Nabi Musa, lalu Allah membersihkannya dari segala tuduhan yang mereka katakan; dan adalah dia seorang yang mulia di sisi Allah. (Surah al-Ahzab: 69)

Qadhi Hussin berkata: Maka, kami tidak mengatakan sesutu kecuali apa yang diredha oleh Tuhan kami dan diredhai oleh Rasul kami. Dan kami tidak berani memberanikan diri terhadap kedudukan baginda yang mulia dan menyakiti baginda صلى الله عليه وآله وسلم dengan perkataan yang membuatkan baginda صلى الله عليه وآله وسلم tidak redha.

Qadhi Abu Bakar Ibn al-’Arabi, salah seorang imam didalam mazhab Maliki pernah ditanya perihal seorang lelaki yang mengatakan bahwa bapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم berada di dalam neraka. Maka beliau (Qadhi Abu Bakar) menjawab: Sesungguhnya lelaki tersebut dilaknat Allah Ta’ala, kerana Allah Ta’ala telah berfirman maksudnya: Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat, dan menyediakan untuk mereka azab seksa yang menghina. (Surah al-Ahzab: 57). Dan tiada perkara yang menyakiti Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم yang terlebih besar daripada seseorang itu mengatakan bahwa bapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم berada di dalam neraka.

Apa untungnya mereka melemparkan isu ini ketengah masyarakat awam? Mengapa mereka mengajar masyarakat untuk tidak beradab dengan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم? Apa manfaatnya? Entahlah … akhir-akhir ini, ramai yang mencari ke‘glamour’an dengan melontarkan isu-isu yang sensitif, membesar-besarkan persoalan-persoalan khilafiah yang sepatutnya dihadapi dengan berlapang dada … porak-peranda kesatuan umat bila hal sebegini dilontarkan kepada masyarakat awam. Dan terdapat juga trend kini yang mengambil ilmu agama dengan hanya sekadar membaca dari buku-buku tanpa belajar dari mereka yang berkeahlian dan yang benar pegangan aqidahnya.

Adapun mengenai kedudukan ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم, sebagaimana yang tersebut didalam kitab-kitab yang al-Faqir nyatakan diatas, secara mudahnya dijawab berdasarkan firman Allah iaitu:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولاً

Artinya: Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah).

Dan firman Allah:
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

Artinya: Rasul-rasul (yang Kami telah utuskan itu semuanya) pembawa khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pembawa amaran (kepada orang-orang yang kafir dan yang berbuat maksiat), supaya tidak ada bagi manusia sesuatu hujah (atau sebarang alasan untuk berdalih pada hari kiamat kelak) terhadap Allah sesudah mengutuskan Rasul-rasul itu. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (surah an-Nisa: 165)

Imam al-Baijuri menyebut didalam kitab Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatut Tauhid:

Tanbih: Apabila engkau telah mengetahui bahwa ahli fatrah adalah golongan yang terselamat di akhirat menurut qaul yang raajih, maka mengetahuilah engkau bahwa kedua ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم juga terselamat, disebabkan keduanya tergolong daripada ahlul fatrah. Bahkan semua nenek moyang Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم terselamat dan dihukumkan sebagai generasi yang beriman dan tiada seorang pun di antara mereka yang (terjatuh) didalam kekufuran, kekotoran, keaiban (yang menjatuhkan maruah) dan tidak pula oleh sesuatu diantara apa-apa yang pernah dilakukan oleh kaum arab jahiliah, berdasarkan dalil naqliah, seperti firman Allah Ta’ala:
وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّاجِدِينَ

Artinya: Dan (melihat) gerak-gerimu di antara orang-orang yang sujud (asy-Syu’ara: 219)

Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
لم أزل انتقل من الاصلاب الصاهرات إلى الأرحام الزكيات

Artinya: Sentiasa aku berpindah dari sulbi generasi-generasi yang suci kepada rahim-rahim yang bersih.

Dan selain yang demikian itu daripada hadits-hadits yang telah mencapai darjat mutawatir. – sekian petikan dari Tuhfatul Murid, halaman 68 –

Mengenai firman Allah Ta’ala dalam ayat 219 surah asy-Syu’ara diatas – وتقلبك في الساجدين Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa dia berkata: “Yakni diantara tulang-tulang sulbi nenek moyang Nabi Adam عليه السلام, Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrahim عليه السلام, sampai Allah Ta’ala mengeluarkan baginda صلى الله عليه وآله وسلم sebagai seorang Nabi.” [lihat tafsir Qurthubi dan Thabari]

Diriwayatkan dari Watsilah bin Asqa’ bahawa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya):
“Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih Nabi Ismail عليه السلام dari anak-anak Nabi Ibrahim عليه السلام, memilih Bani Kinanah dan anak cucu Nabi Ismail عليه السلام, memilih Quraisy dari Bani Kinanah; memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilih diriku dari Bani Hasyim.” [hadits riwayat Ahmad dan Muslim. Hadits ini adalah riwayat Ahmad]

Dari Sayyidina Abbas رضي الله عنه diriwayatkan bahawa Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم bersabda (maksudnya): “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikan aku yang terbaik di antara mereka dan dari generasi terbaik mereka. Kemudian Allah Ta’ala memilih kabilah-kabilah, lalu menjadikan aku dari kabilah terbaik. Kemudian Dia memilih keluarga-keluarga, lalu menjadikan aku dari keluarga terbaik. Maka, aku adalah (makhluk) terbaik peribadinya dan terbaik keluarganya.” [hadits riwayat Ahmad dan at-Turmidhi]

Maka, jelas bahawa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menyebut, asal-usul keturunannya dengan sifat baik dan suci. Itu adalah dua sifat yang berlawanan dengan sifat kekafiran dan kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman dengan menyebutkan sifat kaum musyirikin (maksudnya): “Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis (jiwa musyirikin itu dianggap kotor, kerana menyekutukan Alllah – surah at-Taubah: 28

Mufti Terengganu, Sayyid Yusuf bin ‘Ali az-Zawawi, ketika ditanyakan soalan siapakah ahlul fatrah dan kesudahan mereka, maka beliau menjawab:

Ulama-ulama Islam maksudkan dengan “ahli fatrah” itu ialah mereka yang tidak sampai seruan Nabi dan tidak dibangkitkan kepada mereka utusan [Rasul] daripada Allah Ta’ala. Ulama` ini berkata bahwa mereka ini terlepas dari azab siksa hari akhirat. Sebagaimana firman Allah “وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا” Artinya: “Kami tidak akan menyiksa sehingga telah kami mengutus rasul”. Ayat 15 surah al-Isra’. Ulama juga meletakkan istilah ahli fatrah itu kepada kaum Quraisy dan lainnya yang telah mati sebelum diutus junjungan kita Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم menjadi Rasul dan mereka itu mengatakan bahwa mereka ini terlepas daripada azab siksa dengan sebab tidak sampai seruan Islam kepada mereka termasuklah kedua ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sendiri.

Mengenai pembahagian ahlul fatrah, al-Faqir mengutip daripada tulisan Ustaz Mujahid bin Abdul Wahab bertajuk Keislaman Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم , yang mana buku tersebut disemak oleh al-Fadhil Syaikh Muhamad Fuad Kamaluddin al-Maliki al-Rembawi:

Menurut Professor Dr Judah al-Mahdi, Dekan Fakulti al-Quran di Universiti al-Azhar di dalam kitabnya Hady al-Nairain, secara umumnya ahli fatrah dibahagikan kepada 4 kategori:

Golongan pertama: Mereka dikurniai hidayah oleh Allah a’al untuk mentauhidkanNya dari cahaya hati mereka tanpa menganut mana-mana ajaran Nabi sebelumnya. Diantara mereka ialah Qus ibn Sa’adah, Zaid bin Amru, Zuhair dan ‘Amir ibn al-Zorb

Golongan kedua: Mereka yang menganut agama yang dibawa Nabi-nabi terdahulu, patuh serta iltizam dengannya dan perkara yang berkaitan dengan kerasulan Rasul terakhir صلى الله عليه وآله وسلم bagi sesiapa yang mengenali Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم atau yang mengikuti jalan-jalan mereka yang mengetahui perutusan baginda صلى الله عليه وآله وسلم. Diantara mereka iaialh Tubba al-Himyari yang memeluk Islam dan beriman 900 tahun sebelum kelahiran baginda صلى الله عليه وآله وسلم tatkala kaum Yahudi menceritakan kepadanya ( perihal Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) dari kitab-kitab agama mereka. Beliau pada asalnya merupakan penganut agama Nabi Ibrahim عليه السلام. Begitu juga Waraqah ibn Naufal dan Utsman ibn al-Huwairith dan segelintir penduduk Najran yang tergolong dari kalangan pembahagian ini yang taat dan menganut agama tersebut.

Golongan ketiga: Mereka yang tidak mensyirikkan Allah Ta’ala dan tidak pula mentauhidkanNya serta tidak menganut sebarang agama Nabi sebelumnya. Mereka juga tidak mengasaskan agama sendiri dan tidak pula sampai kepada mereka ajaran Nabi sebelumnya. Bahkan, kekallah mereka dengan arus kehidupan secara semulajadi. Kategori ini merupakan golongan yang menepati istilah Ahli Fatrah yang sebenar dan ketetapan bagi mereka ialah terselamat dari sebarang azab berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولاً

Artinya: Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul.

Golongan keempat: Mereka yang menukar dan menokok tambah ajaran Nabi sebelumnya serta mensyirikkan Allah Ta’ala. Mereka mensyariatkan agama mereka sendiri dan menentukan hukum-hakam menurut kehendak hawanafsu. Kebanyakkan mereka adalah dari golongan arab jahiliyyah. Diantara mereka ‘Amru ibn Luhai yang pertama sekali mengasaskan penyembahan berhala dan amalan-amalan kaum jahiliyyah.

Menurut Imam Zurqani didalam Syarah al-Mawahib al-Laduniyyah [pendapat beliau adalah bertepatan dengan pembahagian ketiga – abuzahrah], kedua ayahanda dan bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tergolong didalam kategori yang ketiga kerana tidak mendapat sebarang seruan dakwah Nabi-nabi yang terdahulu disebabkan zaman mereka yang terkemudian. – Tamat petikan dari buku keislaman ayahanda dan bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Halaman 20 – 23 –

Mufti Mesir, Dr ‘Ali Jum’ah juga menjawab persoalan seumpama ini didalam kitabnya al-Bayan Lima Yasyghul al-Adzhan dan juga al-Bayan al-Qawim li Tashhih Ba’dhi al-Mafahim:

Ketahuilah bahawa ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dan nenek-moyang baginda, jika tsabit bahawa sebahagian mereka jatuh dalam sesuatu yang secara zahir merupakan kesyirikan, maka mereka bukanlah orang-orang yang musyrik. Mereka bersikap demikian kerana mereka tiada diutuskan keatas mereka Rasul. Maka golongan ahlussunnah waljamaah seluruhnya meyakini bahawa siapa yang terjatuh kedalam kemusyrikan, sedangkan dia berada di dalam masa penggantian syariat-syariat tauhid dalam rentang masa kosong (fatrah) antara satu Nabi dengan Nabi selanjutnya, maka ia tidak disiksa.

Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu cukup banyak, antara lain berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولاً

Artinya: Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah). (Surah al-Isra’: 15)
ذٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُنْ رَّبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَٰفِلُونَ

Artinya: Yang demikian itu adalah kerana Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan yang lengah (maksudnya: penduduk suatu kota tidak akan diazab, sebelum diutuskan seorang Rasul yang akan memberikan peringatan kepada mereka.)” (Surah al-An’am: 131)
وَمَآ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلاَّ لَهَا مُنذِرُونَ

Artinya: Dan, kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberikan peringatan. (surah asy-Syu ‘ara: 208).
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

Artinya: Rasul-rasul (yang Kami telah utuskan itu semuanya) pembawa khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pembawa amaran (kepada orang-orang yang kafir dan yang berbuat maksiat), supaya tidak ada bagi manusia sesuatu hujah (atau sebarang alasan untuk berdalih pada hari kiamat kelak) terhadap Allah sesudah mengutuskan Rasul-rasul itu. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (surah an-Nisa: 165)

Maka, tidak berdiri tegak hujjah (bagi Allah Ta’ala) terhadap makhluk kecuali dengan mengutus Rasul-rasul. Dan tanpa mengutus Rasul-rasul, maka manusia tidak berada dalam hujjah, dengan rahmat Allah Ta’ala dan kurniaNya. Ayat-ayat ini menunjukkan apa yang diyakini oleh ahlul haq, golongan ahlussunnah waljamaah, bahawa Allah Ta’ala dengan rahmat dan kurniaNya tidak menyiksa seorang pun sehingga diutuskan kepadanya Rasul yang memberi peringatan.

Mungkin sahaja ada orang yang mengatakan: “Barangkali kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم telah diutus Rasul pemberi peringatan kepada mereka dan mereka berdua syirik setelah sampainya hujjah.” Maka ini merupakan sesuatu yang tidak dikemukakan oleh teks ajaran, bahkan nash-nash yang menafikannya dan menegaskan sebaliknya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَآ آتَيْنَاهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا وَمَآ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِّن نَّذِيرٍ

Artinya: Dan (tidak ada sebarang alasan bagi dakwaan mereka, kerana) Kami tidak pernah memberi kepada mereka Kitab-kitab untuk mereka membaca dan mengkajinya, dan Kami juga tidak pernah mengutus kepada mereka sebelummu (wahai Muhammad) seseorang Rasul pemberi amaran (melarang mereka menerima ajaranmu). (surah Saba: 44)

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman :
لِتُنذِرَ قَوْماً مَّآ أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya: … supaya engkau memberi amaran kepada kaum (mu) yang telah lama tidak didatangi sebarang Rasul pemberi amaran sebelummu, semoga mereka beroleh pengajaran (serta insaf mematuhinya).

Dan pada ayat lain lagi, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِيۤ أُمِّهَا رَسُولاً يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي ٱلْقُرَىٰ إِلاَّ وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

Artinya: Dan tidaklah menjadi kebiasaan Tuhanmu membinasakan mana-mana negeri sebelum Ia mengutus ke ibu negeri itu seorang Rasul yang akan membacakan kepada penduduknya ayat-ayat keterangan Kami; dan tidaklah menjadi kebiasaan Kami membinasakan mana-mana negeri melainkan setelah penduduknya berlaku zalim.

Nash-nash yang telah dikemukakan itu menunjukkan bahawa kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tidak diseksa bukan kerana mereka berdua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tetapi kerana termasuk dalam orang-orang yang hidup pada masa fatrah (ruang waktu kosong antara para Rasul). Dan hukum mereka sudah jelas di kalangan kaum muslimin.

Imam Syathibi berkata [didalam al-Muwafaqat, juz 3]: “Telah berlaku ketetapan Allah Ta’ala (sunnatuLlah) pada makhlukNya bahawa Dia tidak menyiksa kerana pelanggaran kecuali setelah mengutus rasul. Lalu apabila hujjah sudah berdiri tegak atas mereka: siapa yang memilih beriman, maka ia beriman; dan siapa yang memilih kafir, maka ia kafir. Bagi setiap pilihan ada balasan setimpal.” – petikan dari al-Bayan Lima Yasyghul al-Adzhan, halaman 171 – 172 –

Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih terperinci, silalah rujuk kitab-kitab yang telah al-Faqir sebutkan diatas tadi. InsyaAllah al-Faqir akan menyambung lagi tulisan ini didalam bahagian 2 dan 3 …….
اَلَّلهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا وَالحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مَنْ أَحْوَالِ أَهْلِ النَّارِ

Sekian.
وماتوفيقي إلابالله عليه توكلت وإليه انيب
~ al-haqir al-faqir abu zahrah –
Ayahanda dan Bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم – Bahagian 2

Sambungan daripada entri sebelumnya. Pada bahagian kedua ini al-Faqir ingin membawakan beberapa dalil yang dibawa oleh ulama tentang keimanan ibubapa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.

Al-Faqir mulai dengan memetik apa yang tersebut didalam kitab Nur al-Dzolam karangan asy-Syaikh al-‘Alim al-‘Allamah Abi ‘Abd al-Mu’thi Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali Nawawi al-Banten (Syaikh Nawawi Banten) رحمه الله تعالى (maksudnya):

Far’un (cabang): Telah berkata Syaikh al-Baajuriy: Adapun yang benar, semoga Allah memperkenankan kami atasnya, sesungguhnya kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم adalah orang selamat menurut pendapat yang mengatakan [qil]: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menghidupkan kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم hingga keduanya beriman kepada baginda, kemudian Allah mewafatkan keduannya kembali – berdasarkan hadits yang telah datang mengenai hal itu, iaitu hadits yang diriwayatkan oleh Urwah daripada ‘Aisyah bahwa sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم memohon kepada Tuhannya untuk menghidupkan [kembali] kedua ibubapa baginda, lalu Allah menghidupkan keduanya lalu mereka berdua beriman kepada baginda, kemudian Allah mewafatkan keduanya.

Syaikh as-Suhailiy berkata: Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu untuk mengkhususkan NabiNya dengan apa yang Dia kehendaki dari anugerahnya dan memberikan nikmat padanya dengan apa yang Dia kehendaki dari kemuliaanNya – [Nur adz-Dzolam Syarh Mandzumah ‘Aqidah al-Awwam; cetakan Dar al-Hawi; halaman 114 – 115]

Bagi sapa-sapa yang pernah mempelajari kitab Nur adz-Dholam ka ataupun Tuhfatul Murid syarah bagi Matan Jauharah, maka, insyaAllah dia akan bertemulah dengan perbahasan tersebut. Oh ya … sapa-sapa yang berminat nak cd mp3 pengajian Tuhfatul Murid oleh Baba Ismail Sepanjang bolehlah hubungi al-Faqir …. habih sebuah kitab. 60 keping cd. Maaf ya, promosi sikit ……. bisnis kampungan … 🙂 )

Kembali kepada tajuk ……. Tersebut didalam kitab al-Nasikh wa al-Mansukh oleh Ibn Syahin, sepotong hadits, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم (maksudnya):

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn al-Hassan ibn Ziyad, hamba kaum Anshor, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Yahya al-Hadhrami ketika di Mekah, telah menceritakan kepada kami Abu Ghuzayyah Muhammad ibn Yahya al-Zuhri, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab ibn Musa daripada ‘Abdurrahman ibn Abi al-Zannad daripada Hisyam ibn Urwah daripada bapanya [iaitu Urwah ibn al-Zubair ibn al-Awwam ibn Khuwailid ibn Asad bin ‘Abdul Uzza ibn Qushai. Urwah adalah anak saudara kepada Sayyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها] daripada Sayyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها : Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم pergi ke Hujuun [Mu’alla atau Ma’ala iaitu kawasan perkuburan di Mekah. Dinamakan al-Hujuun kerana dinisbahkan kepada bukit al-Hujuun – abuzahrah] dalam keadaan dukacita dan bersedih, lalu duduk disana selama masa yang dkehendaki oleh Tuhannya Azza wa Jalla. Kemudian baginda kembali dalam keadaan gembira, maka aku bertanya: Wahai. Rasulullah! Engkau pergi ke Hujuun dalam keadaan dukacita dan bersedih lalu engkau duduk disana selama masa yang dikehendaki oleh Allah, kemudian engkau kembali dalam keadaan gembira. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Aku meminta kepada Allah lalu Allah menghidupkan kembali ibuku, maka dia beriman denganku, kemudian Allah mematikannya semula.

Az-Zahabi dan segolongan ahli hadits mengatakan hadits ini sebagai maudhu kerana didalamnya kerana

Terdapat seorang 2 perawi hadits yang majhul iaitu Abdul Wahhab ibn Musa dan Muhammad ibn Yahya.
Bertentangan dengan hadits shohih iaitu hadits Rasullulah صلى الله عليه وآله وسلم meminta keampunan untuk ibu baginda.

Maka untuk menolak pendapat tersebut:

(1) Perawi yang majhul: Al-Hafidz Jalaluddin al-Sayuthi mengatakan bahwa pendapat az-Zahabi ditolak kerana Abdul Wahhab ibn Musa, perawi yang dikatakan majhul itu tergolong didalam perawi yang meriwayatkan hadits daripada Anas bin Malik dan beliau dikenali sebagai Abu al-Abbas al-Zuhri. Begitu juga Muhammad ibn Yahya juga dikenali, dimana peribadi beliau yang baik diceritakan oleh Abu Sa’id ibn Yunus di dalam Tarikh Misr. Maka sebahagian ahli hadits telah bersepakat mengatakan hadits ini bukanlah maudhu’ tetapi hanya mencapai tahap hadits dhoif yang mana ianya boleh dijadikan sandaran untuk beramal dalam perkara-perkara khosois, manaqib dan fadhoil. Pendapat Imam Sayuthi ini sejajar dengan pendapat sesetengah ahli hadits seperti Ibn Syahin, al-Khatib al-Baghdadi, Ibn ‘Asakir dan al-Suhaili. Begitu juga al-Qurthubi dan Ibn Jarir ath-Thabari.

(2) Bertentangan dengan hadits shohih: Sebahagian ahli hadits dan ulama yang mengatakan hadits ihya diatas maudhu’ kerana bertentangan maksud dengan hadits yang shohih iaitu (maksudnya):

(a) Sesungguhnya kubur yang kamu semua lihat aku berdoa disisinya tadi adalah kubur Aminah binti Wahhab. Sesungguhnya aku meminta izin daripada Allah untuk menziarahinya, maka Allah mengizinkannya. Kemudian aku meminta izin untuk beristighfar baginya dan Allah tidak mengizinkan bagiku dan turunlah keatasku ayat (maksudnya): “Dan tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohon ampun bagi kaum musyrikin. (hadits riwayat al-Hakim didalam al-Mustadrak dan az-Zahabi menshahihkannya)

(b) Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun bagi ibuku, maka Dia tidak mengizinkanku. Dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia mengizinkanku.” (hadits riwayat Imam Muslim)

Menurut al-Hafidz Jalaluddin as-Sayuthi didalam at-Ta’zim wa al-Minnah fi Anna Abaway Rasulillah fi al-Jannah, hadits pertama (a) yang diriwayatkan oleh al-Hakim didalam al-Mustadrak dan dishohihkan oleh az-Zahabi dan kemudian az-Zahabi mendhoifkannya pula didalam Mukhtasar al-Mustadrak. Maka telah wujud pertentangan pendapat az-Zahabi pada hadits yang sama. Seterusnya as-Sayuthi mengatakan bahwa riwayat al-Hakim ini bersalahan dengan apa yang dinyatakan oleh di dalam shohih al-Bukhari mengenai sebab turunnya ayat:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَٱلَّذِينَ آمَنُوۤاْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ

Ayat 113 dari surah at-Taubah ini turun di Mekah pada ketika kewafatan Abu Tholib.

Manakala, menurut Ibn Syahin (w385H) didalam kitabnya an-Nasikh wal Mansukh bahwa hadits istighfar iaitu hadits larangan Allah ke atas Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم daripada memohon ampun buat ibu baginda telah dimansukhkan oleh hadits yang datang kemudian iaitu hadits ihya’, hadits ibu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dihidupkan semula. Pendapat ini juga didokong oleh Imam al-Qurthubi sebagaimana kata beliau didalam kitab at-Tazkirah fi ahwal al-Mauta wal akhirah [maksudnya kurang-lebih]:

Fasal: Telah datang pada bab ini: Hadits yang bertentangan dengan hadits dalam bab ini [yang dibincangkan sebelumnya], iaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Ahmad ibn ‘Ali al-Khatib didalam kitabnya as-Saabiq wa al-Laahiq dan Abu Hafs ‘Umar ibn Syahin didalam kitab al-Naasikh wa al-Mansuukh, dengan isnad keduanya itu daripada Saiyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها , beliau berkata: Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mengerjakan haji wada, maka membawaku melewati ‘Aqabah al-Hujuun [Ma’ala], baginda kelihatan sedih dan murung. Lalu akupun ikut menangis kerana tangisan baginda. Kemudian baginda turun dari tunggangannya dan berkata kepada: Tunggulah disini sebentar. Maka aku bersandar dekat unta. Setelah jarak masa yang panjang, baginda kembali dalam keadaan senyum gembira. Maka aku berkata kepada baginda: Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah! Tadi ketika bersamaku, engkau kelihatan sedih sehingga aku turut menangis kerana tangisanmu, wahai Rasulullah. Kemudian engkau kembali kepadaku dengan tersenyum gembira, apa yang terjadi wahai Rasulullah? Maka baginda bersabda: Aku telah melawati kubur ibuku Aminah, kau bermohon kepada Allah, Tuhanku agar Dia menghidupkan dia [Aminah] kembali, maka Dia menghidupkan kembali lalu dia beriman kepadaku dan [kemudian] mewafatkan dia kembali – lafaz hadits ini daripada al-Khatib. As-Suhailiy telah menyebut didalam Raudah al-Unfi dengan sanad yang padanya terdapat perawi-perawi yang tidak dikenali (majhul): Bahwasanya Allah Ta’ala telah menghidupkan bagi baginda Rasululah صلى الله عليه وآله وسلم ayah dan ibu baginda dan mereka berdua beriman kepadanya.

Berkata Imam al-Qurthubi: Tiada pertentangan (mengenai masalah ini) kerana peristiwa dihidupkannya semula ini diriwayatkan oleh ‘Aisyah terkemudian dari hadits memohon izin untuk beristighfar buat ibu baginda. Sesungguhnya yang demikian itu terjadi ketika haji wadaa’. Maka Ibn Syahin telah menjadikan hadits ini sebagai pemansukh bagi hadits larangan tadi.

Maka difahami dari pendapat Ibn Syahin dan Imam al-Qurtubi tersebut, bahwa hadits ihya’ itu tidaklah maudhu’ kerana, bagaimana boleh hadits maudhu’ memansukhkan hadits lain??????

Dan menurut Dr ‘Ali Jum’ah, Mufti Mesir didalam al-Bayan pula:

“… pada hadits tersebut tidak terdapat pengungkapan yang tegas bahawa ibu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di dalam neraka. Tidak mendapat izin untuk memohonkan ampun tidak bererti menunjukkan bahawa dia musyrik. Jika tidak, tentu tidak mungkin Tuhannya mengizinkan untuk menziarahi kuburnya, kerana tidak boleh menziarahi kubur orang-orang musyrik dan berbakti kepada mereka”.

Manakala Dr. Abdul Malik Abdurrahman al-Sa’adi pula berkata:

“… baginda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tidak diizinkan itu, bukanlah bermaksud bahwa dia (ibu Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) daripada ahli neraka. Mungkin tidak diizinkan itu, kerana tidak terdapat dosa pada ibu baginda, kerana dia belum lagi dianggap mukallaf, maka tidak dicatit dosa-dosa untuknya.

Maka disimpulkan sebagaimana disebut oleh Dr ‘Ali Jum’ah, bahawa pendapat yang kuat adalah bahawa kedua ibubapa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم itu selamat (tidak termasuk neraka), bahkan juga seluruh nenek moyang baginda. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita cinta kepada Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dan mengenal darjat kedudukannya dengan baik serta beradab dengan baginda agar terhindar kita dari keceluparan dalam memperihalkan mengenai ibuayah baginda.

InsyaAllah al-Faqir akan menyambung lagi bahagian terakhir dari tajuk ini …….
اَلَّلهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا وَالحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مَنْ أَحْوَالِ أَهْلِ النَّارِ

Perbahasan tentang bonda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم

Sekian.

http://al-fanshuri.blogspot.com/

وماتوفيقي إلابالله عليه توكلت وإليه انيب
~ al-haqir al-faqir abu zahrah ~

Budaya selamatan

Budaya selamatan setelah hari kematian seseorang dengan tahlilan dan walimahan—baik dalam 7 hari, 40 hari, 100 hari atau 1000 hari—adalah salah satu budaya masyarakat Nahdhiyyin di Indonesia yang sangat diingkari oleh kaum Wahhabi dan yang sefaham dengannya serta dituduh sebagai budaya bid’ah dan sesat.
Berbagai buku yang bermuatan kritik dan hinaan terhadap budaya tersebut banyak ditulis oleh orang-orang menisbatkan dirinya penganut faham salaf atau Wahhabi. Mereka juga mengatakan dan memberi bukti tuduhannya bahwa budaya tersebut adalah warisan budaya agama Hindu, terbukti dengan diadakannya konggres yang dilakukan oleh petinggi-petinggi umat Hindu se-Asia pada tahun 2006 di Lumajang, Jawa Timur. Dan salah satu point pembahasannya adalah membicarakan tentang ungkapan syukur atas keberhasilan menyebarkan budaya acara-acara setelah kematian seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. (Lihat buku Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah Para Wali, karangan H. Mahrus Ali )
Berikut ini, akan kami kupas hadits dan dalil tentang melaksanakan budaya di atas. Jawaban tentang masalah ini kami ambil dari kitab Qurrah al-’Ain bi Fatawi Isma’il Zain al-Yamani halaman 175 cetakan Maktabah al-Barakah dan kitab al-Hawi lil Fatawi karya al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi juz 2 halaman 179 cetakan Darul Kutub, Bairut.

Syaikh Isma’il Zain al-Yamani menulis sebagai berikut (kami kutib secara garis besar):
Dalam Sunan Abu Dawud hadits nomer 2894 dituliskan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَخْبَرَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ اْلأَنْصَارِ قَالَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوصِي الْحَافِرَ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِي امْرَأَةٍ فَجَاءَ وَجِيءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ فَأَكَلُوا فَنَظَرَ آبَاؤُنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلُوكُ لُقْمَةً فِي فَمِهِ ثُمَّ قَالَ أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا فَأَرْسَلَتْ الْمَرْأَةُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَرْسَلْتُ إِلَى الْبَقِيعِ يَشْتَرِي لِي شَاةً فَلَمْ أَجِدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى جَارٍ لِي قَدْ اشْتَرَى شَاةً أَنْ أَرْسِلْ إِلَيَّ بِهَا بِثَمَنِهَا فَلَمْ يُوجَدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيَّ بِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْعِمِيهِ اْلأُسَارَى
“Muhammad bin al-‘Ala’ menceritakan dari (Abdullah) bin Idris dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib) dari seorang laki-laki Anshar (shahabat), berkata: ‘Aku keluar bersama Rasulallah berta’ziyah ke salah satu jenazah. Selanjutnya aku melihat Rasulallah di atas kubur berpesan kepada penggali kubur (dengan berkata): ‘Lebarkanlah bagian arah kedua kaki dan lebarkan pula bagian arah kepala!’ Setelah Rasulallah hendak kembali pulang, tiba-tiba seseorang yang menjadi pesuruh wanita (istri mayit) menemui beliau, mengundangnya (untuk datang ke rumah wanita tersebut). Lalu Rasulallah pun datang dan diberi hidangan suguhan makanan. Kemudian Rasulallah pun mengambil makanan tersebut yang juga diikuti oleh para shahabat lain dan memakannya. Ayah-ayah kami melihat Rasulallah mengunyah sesuap makanan di mulut beliau, kemudian Rasulallah berkata: ’Aku merasa menemukan daging kambing yang diambil dengan tanpa izin pemiliknya?!’ Kemudian wanita itu berkata: ’Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah menyuruh untuk membeli kambing di Baqi,[1] tapi tidak menemukannya, kemudian aku mengutus untuk membeli dari tetangga laki-laki kami dengan uang seharga (kambing tersebut) untuk dikirimkan kepada saya, tapi dia tidak ada dan kemudian saya mengutus untuk membeli dari istrinya dengan uang seharga kambing tersebut lalu oleh dia dikirimkan kepada saya.’ Rasulallah kemudian menjawab: ’Berikanlah makanan ini kepada para tawanan!’”

Hadits Abu Dawud tersebut juga tercatat dalam Misykah al-Mashabih karya Mulla Ali al-Qari bab mukjizat halaman 544 dan tercatat juga dalam as-Sunan al-Kubra serta Dala’il an-Nubuwwah, keduanya karya al-Baihaqi.

Komentar Syaikh Ismail tentang status sanad hadits di atas, beliau berkata bahwa dalam Sunan Abu Dawud tersebut, Imam Abu Dawud diam tidak memberi komentar mengenai statusnya, yang artinya secara kaidah (yang dianut oleh ulama termasuk an-Nawawi dalam mukaddimah al-Adzkar) bahwa hadits tersebut boleh dibuat hujjah, artinya status haditsnya berkisar antara hasan dan shahih. Al-Hafizh al-Mundziri juga diam tidak berkomentar, yang artinya bahwa hadits tersebut juga boleh dibuat hujjah.
Perawi yang bernama Muhammad bin al-‘Ala’ adalah guru Imam al-Bukhari, Muslim dan lain-lain dan jelas termasuk perawi shahih. Abdullah bin Idris dikomentari oleh Ibnu Ma’in sebagai perawi tsiqah dan di katakan oleh Imam Ahmad sebagai orang yang tidak ada duanya (nasiju wahdih). Sementara ‘Ashim, banyak yang komentar dia adalah perawi tsiqah dan terpercaya, haditsnya tidak mengapa diterima, orang shalih dan orang mulia penduduk Kufah. Sedangkan laki-laki penduduk Madinah yang di maksud adalah shahabat Nabi yang semuanya adalah adil tanpa ada curiga sama sekali. Dari keterangan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa hadits di atas adalah hadits hasan yang bisa dibuat hujjah.
Sedangkan dari sisi isinya, hadits tersebut mengandung beberapa faidah dan hukum penting, di antaranya:
v Menunjukkan mukjizat Rasulallah yang dapat mengetahui haram tidaknya sesuatu tanpa ada seseorang yang memberi tahu. Oleh karena itu, al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah menyebutkan hadits ini dalam bab Mukjizat.
v Jual belinya seseorang yang bukan pemilik atau wakil (bai’ fudhuli) adalah tidak sah dan bathil. Oleh karennya, Abu Dawud menyebutkan hadits ini dalam Sunan-nya di bagian bab Jual Beli.
v Akad yang mengandung syubhat seyogianya dihindari agar tidak jatuh pada limbah keharaman.
v Diperbolehkannya bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimah dan mengundang orang lain untuk hadir memakannya. Bahkan, jika difahami dari hadits tersebut, melakukan walimah tersebut adalah termasuk qurbah (ibadah). Sebab, adakalanya memberi makan bertujuan mengharapkan pahala untuk si mayit -termasuk utama-utamanya qurbah- serta sudah menjadi kesepakatan bahwa pahalanya bisa sampai kepada mayit. Mungkin pula bertujuan menghormati tamu dan niat menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah agar tidak lagi larut dalam kesedihan. Baik jamuan tersebut dilakukan saat hari kematian, seperti yang dilakukan oleh istri mayit dalam hadits di atas, atau dilakukan di hari-hari berikutnya. (Mungkin maksud Syaikh Ismail adalah hari ke-7, 40, 100 dan 1000).

Hadits di atas juga di nilai tidak bertentangan dengan hadits masyhur berikut:
إِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُنَّ مَا يُشْغِلُهُنَّ أَوْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ
“Buatlah makanan untuk keluarga Ja‘far, karena anggota keluarga yang wanita sedang sibuk atau anggota keluarga laki-laki sedang sibuk.”

Menurut Syaikh Isma‘il, hadits tersebut (keluarga Ja’far) ada kemungkinan (ihtimal) khusus untuk keluarga Ja‘far, karena Rasulallah melihat keluarga Ja‘far tersebut sedang dirundung duka sehingga anggota keluarganya tidak sempat lagi membuat makanan. Kemudian Rasulallah menyuruh anggota keluarga beliau untuk membuatkan makanan bagi keluarga Ja‘far. Selain itu juga, tidak ada hadits yangsharih (jelas) yang menjelaskan bahwa Rasulallah melarang bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimahan untuk pentakziyah.
Pernyataan ini dikuatkan dengan riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِينَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِينَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ التَّلْبِينَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ

“Dari Aisyah, istri Rasulallah, ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal, para wanita-wanita berkumpul dan kemudian pergi kecuali anggota keluarganya dan orang-orang tertentu. Kemudian beliau memerintahkan untuk membawakannya periuk berisi sup yang terbuat dari tepung yang dicampuri dengan madu kemudian dimasak. Kemudian dibuatlah bubur sarid dan sup tadi dimasukkan ke dalam bubur tersebut. Lalu beliau berkata: ‘Makanlah makanan ini karena aku mendengar dari Rasulallah bersabda bahwa bahwa sup dapat melegakan hati orang yang sedang sakit; menghilangkan sebagian kesusahan.”

Orang yang mengerti kaidah syari’at berpandangan bahwa walimah yang dibuat oleh keluarga mayit adalah tidak dilarang selama mereka membuat walimah tersebut karena taqarrub kepada Allah, menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah dan menghormat para tamu yang datang untuk bertakziyah. Tentunya, semua itu jika harta yang digunakan untuk walimah tersebut tidak milik anak yatim, yakni jika salah satu keluarga yang ditinggalkan mayit ada anak yang masih kecil (belum baligh).

Adapun menanggapi perkataan (hadits) al-Jarir bin Abdillah yang mengatakan bahwa berkumpul dengan keluarga mayit dan membuatkan hidangan untuk mereka adalah termasuk niyahah (meratapi mayit) yang diharamkan, Syaikh Isma‘il memberi jawaban: “Maksud dari ucapan Jarir tersebut adalah mereka berkumpul dengan memperlihatkan kesedihan dan meratap. Hal itu terbukti dari redaksi ucapan Jarir yang menggunakan kata niyahah. Hal itu menunjukkan bahwa keharaman tersebut dipandang dari sisi niyahah dan bukan dari berkumpulnya. Sedangkan apabila tidak ada niyahah tentu hal tersebut tidak di haramkan.”
Sedangakan menjawab komentar ulama-ulama yang sering digunakan untuk mencela budaya di atas[2] (tentang hukum sunah bagi tetangga keluarga mayit membuat atau menyiapkan makanan bagi keluarga mayit sehari semalam) yang dimaksudkan adalah obyek hukum sunah tersebut adalah bagi keluarga mayit yang sedang kesusahan seperti yang dialami keluarga Ja‘far. Oleh karena itu, tidak ada dalil tentang hukum makruh membuat walimah oleh keluarga mayit secara mutlak kecuali dari (memahami) hadits keluarga Ja‘far dan hadits Jarir di atas. Ada kemungkinan juga ulama-ulama tersebut belum pernah melihat hadits ‘Ashim di atas yang menerangkan tentang bolehnya membuat walimah bagi keluarga mayit.
Al-‘Allamah Mulla Ali al-Qari mengatakan: “Zhahir dari hadits ‘Ashim tersebut menentang apa yang diputuskan oleh para ulama kita (ashhabuna) tentang dimakruhkannya membuat walimah di hari pertama, ketiga atau setelah seminggu.”
Adapun dalil bahwa pahala shadaqah yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai kepadanya adalah riwayat al-Bukhari dari Aisyah:

أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah Saw.: ‘Ibu saya telah meninggal, dan aku berprasangka andai dia bisa berbicara pasti dia akan bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya?’ Rasulallah menjawab: ‘Benar.’”

Hadits shahih ini adalah hujjah tentang pahala shadaqah yang sampai kepada mayit. Maka dari itu, pembaca jangan terperdaya dengan ‘pandangan’ H. Mahrus Ali dalam bukunya yang berjudul Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah para Wali. Mahrus Ali mengatakan bahwa hadits-hadits tentang pahala shadaqah tersebut adalah dha‘if dan secara isyarah dia melemahkan hadits shahih al-Bukhari di atas. Sungguh brutal dan ‘ngawur’ sekali! Bukan dalang tapi mendalang. Bukan ahli hadits tapi menilai hadits. Apalagi sampai mendhaifkan hadits dalam shahih Bukhari yang mempunyai sanad (bukan mu’allaq) dan sudah menjadi kesepakatan ulama termasuk hadits shahih.

Fatwa as-Suyuthi:
Terdapat keterangan ulama bahwa mayit difitnah (ditanya malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kuburnya adalah selama 7 hari (setelah hari penguburan) sebagaimana tersirat dalam hadits yang dibawakan oleh beberapa ulama. Hadits yang dibuat landasan tersebut adalah:
1. Hadits riwayat Ahmad dalam az-Zuhd dari Thawus.
2. Hadits riwayat Abu Nu’aim al-Ashbahani dari Thawus.
3. Hadits riwayat Ibnu Juraij dalam al-Mushannaf dari ‘Ubaid bin ‘Umair (sebagian berkomentar dia adalah pembesar tabi’in dan sebagian yang lain mengatakan dia seorang shahabat). Al-Hafizh Ibnu Rajab menisbatkan pada Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair.

Hadits-hadits tersebut adalah:
قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ لَهُ حَدَّثَنَا هَاشِمٌ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ ثَنَا اْلأَشْجَعِي عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ بْنِ مَالِكٍ ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ ابْنُ حَنْبَلَ ثَنَا أُبَيُّ ثَنَا هَاشِمٌ بْنُ الْقَاسِمِ ثَنَا اْلأَشْجَعِي عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قاَلَ طَاوُوسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ
ذِكْرُ الرِّوَايَةِ الْمُسْنَدَةِ عَنْ عُبَيْدٍ بْنِ عُمَيْرٍ: قاَلَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مَصَنَّفِهِ عَنِ الْحَارِثِ ابْنِ أَبِي الْحَارِثِ عَنْ عُبَيْدٍ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ يُفْتَنُ رَجُلاَنِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا
“Imam Ahmad dalam az-Zuhd berkata: ‘Hasyim bin Qasim bercerita kepadaku dari al-Asyja‘i dari Sufyan dari Thawus, dia berkata: Sesungguhnya mayit di dalam kuburnya terfitnah (ditanyai Malaikat Munkar dan Nakir) selama 7 hari. Dan mereka menganjurkan supaya membuat (walimahan) dengan memberi makan (orang-orang), (yang pahalanya dihadiahkan) untuk si mayit tersebut di hari-hari tersebut.”Selanjutnya hadits riwayat berikutnya adalah sama secara makna.

Sebelum membahas isi dari hadits ini, marilah kita bahas terlebih dahulu diri sisi sanadnya, sehingga kita akan tahu layak dan tidaknya hadits ini untuk dibuat hujjah.
1. Perawi-perawi hadits yang pertama adalah shahih dan Thawus adalah termasuk pembesar tabi’in.
2. Hadits yang diriwayatkan dan tidak mungkin dari hasil ijtihad shahabat atau tabi’in hukumnya adalah marfu’ bukan mauquf, seperti hadits yang menerangkan tentang alam barzakh, akhirat dan lain-lain sebagaimana yang sudah maklum dalam kaidah ushul hadits.
3. Atsar Thawus tersebut adalah termasuk hadits marfu’ yang mursal dan sanadnya shahih serta boleh dibuat hujjah menurut Abu Hanifah, Malik dan Ahmad secara mutlak tanpa syarat. Sedangkan menurut asy-Syafi‘i juga boleh dibuat hujjah jika ada penguat seperti ada riwayat yang sama atau riwayat dari shahabat yang mencocokinya. Syarat tersebut telah terpenuhi, yaitu dengan adanya riwayat dari Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair dan keduanya seorang tabi’in besar (sebagian mengatakan ‘Ubaid adalah shahabat Rasulallah). Dua hadis riwayat selanjutnya adalah hadits mursal yang menguatkan hadits mursal di atas.
4. Menurut kaidah ushul, kata-kata “mereka menganjurkan memberi makan di hari-hari itu” adalah termasuk ucapan tabi’in. Artinya, kata “mereka” berkisar antara shahabat Rasulallah, di zaman Rasulallah, dan beliau taqrir (setuju) terhadap prilaku tersebut atau artinya adalah shahabat tanpa ada penisbatan sama sekali kepada Rasulallah. Ulama juga berselisih apakah hal itu adalah ikhbar (informasi) dari semua shahabat yang berarti menjadi ijma’ atau hanya sebagian dari shahabat saja.
Dari hadits di atas dapat difahami dan digunakan sebagai:
1. Dasar tentang i’tiqad bahwa fitnah kubur adalah selama 7 hari.
2. Penetapan hukum syara’ tentang disunahkannya bershadaqah dan memberi makan orang lain di hari-hari tersebut. Serta, dapat dijadikan dalil bahwa budaya memberi makan warga Nahdhiyyin saat hari pertama sampai hari ketujuh dari hari kematian adalah terdapat dalil yang mensyariatkannya.
As-Suyuthi juga mengatakan: “Sunah memberi makan selama 7 hari tersebut berlaku sampai sekarang di Makkah dan Madinah, dan secara zhahirnya hal itu sudah ada dan tidak pernah ditinggalkan masyarakat sejak zaman shahabat sampai sekarang. Dan mereka mengambilnya dari salaf-salaf terdahulu.”
Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abul Fath Nashrullah bin Muhammad bahwa Nashr al-Maqdisi wafat di hari Selasa tanggal 9 Muharram tahun 490 hijriyyah di Damaskus dan kami menetap di makamnya selama 7 hari membaca al-Qur’an sebanyak 20 khataman.
Adapun melakukan acara 40 hari, 100 hari atau 1000 hari dari kematian dengan melakukan tahlilan dan bershadaqah memang tidak ada dalil yang mengatakan sunah. Namun demikian, melakukan budaya tersebut diperbolehkan menurut syariat. Dan seyogianya bagi yang mengadakan acara tersebut tidak mengi’tiqadkan bahwa hal tersebut adalah sunnah dari Rasulallah, tetapi cukup berniat untuk bershadaqah dan membacakan Al-Qur’an, yang mana pahalanya dihadiahkan kepada mayit, sebagaimana keterangan di atas.
Sedangkan untuk menanggapi syubhat dari H. Mahrus Ali yang mengatakan bahwa tahlilan kematian dan budaya 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari adalah budaya Hindu dan melakukannya adalah syirik karena menyerupai orang kafir (dia juga membawakan hadits tentang tasyabbuh riwayat ath-Thabarani dan Abu Dawud), kami menjawab sebagai berikut:
1. Sebagian dari pernyataannya tentang acara selamatan 7 hari yang katanya adalah merupakan salah satu dakwah (ajaran syari’at) umat Hindu sudah terbantah dengan hadits-hadits di atas.
2. Andai anggapan tersebut benar adanya, bahwasannya budaya walimah kematian 7 hari, 40 hari dan sebagainya tersebut adalah bermula dari budaya warisan umat Hindu Jawa, sebagaimana yang di yakini oleh bebarapa Kyai dan ahli sejarah babat tanah Jawa, dan di saat ajaran Islam yang di bawa Wali Songo datang, budaya tersebut sudah terlanjur mendarah daging dengan kultur masyarakat Jawa kala itu. Kemudian dengan dakwah yang penuh hikmah dan kearifan dari para wali, budaya yang berisi kemusyrikan tersebut di giring dan di arahkan menjadi budaya yang benar serta sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan diganti dengan melakukan tahlilan, kirim do’a untuk orang yang telah meninggal atau arwah laluhur dan bersedekah. Maka sebenarnya jika kita kembali membaca sejarah Islam bahwasannya methode dakwah wali 9 yang mengganti budaya Hindu tersebut dengan ajaran yang tidak keluar dari tatanan syariat adalah sesuai dengan apa yang di lakukan oleh Rasulallah yang mengganti budaya Jahiliyyah melumuri kepala bayi yang di lahirkan dengan darah hewan sembelihan dan diganti dengan melumuri kepala bayi dengan minyak zakfaron. Apa yang di lakukan Rasulallah tersebut tersirat dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, Abu Dawud dalam Sunan-nya, Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrayang semuanya di riwayatkan dari shahabat Abu Buraidah al-Aslami berikut:
كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَّخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ
“Saat kami masih hidup di zaman Jahiliyyah; saat salah satu dari kami melahirkan seorang bayi, maka kami menyembelih seekor kambing dan kepala bayi kami lumuri dengan darah kambing tersebut. Namun saat Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, kami cukur rambut kepala bayi dan kami lumuri kepalanya dengan minyak zakfaron”
Dengan demikian, jika budaya walimah kematian di atas yang di isi dengan berbagai kebaikan seperti shodaqah penghormatan kepada tamu dan bacaan ratib tahlil atau dzikir-dzikir lain di anggap sebagai sesuatu yang keluar dari jalur syariat dan bid’ah yang sesat, maka sebenarnya anggapan tersebut sama dengan menganggap dakwah wali songo tersebut tidak benar dan mereka adalah pendakwah yang sesat. Na’udzu billah.
1. Tasyabbuh dengan orang kafir yang dihukumi kufur adalah jika tasyabbuh dengan kelakuan kufur mereka, memakai pakaian ciri khas mereka, atau sengaja melakukan syiar-syiar kekufuran bersama-sama dengan mereka. Atau ringkasnya, tasyabbuh yang menjadikan kufur adalahtasyabbuh dengan mereka secara mutlak (zhahiran wa bathinan). Sedangakan tasyabbuh yang dihukumi haram adalah jika tasyabbuh tersebut diniatkan menyerupai mereka di dalam hari-hari raya mereka.[3] Padahal kita tahu, acara selamatan sudah ada sejak dulu dan juga selamatan tidak pernah tasyabbuh dengan kekufuran dan hari-hari raya mereka. Andaipun tuduhan itu benar, bahwa selamatan merupakan budaya Hindu, maka juga tidak bisa dihukumi kufur atau haram karena warga Nahdhiyyin sama sekali tidak ada niat tasyabbuh dengan budaya mereka. Selain dari pada itu, umat Hindu tidak pernah mengenal tahlilan sama sekali. Lalu kenapa dikatakan tasyabbuh dan dihukumi haram? dan masihkan acara yang dilakukan oleh warga Nahdhiyyin tersebut dianggap sebagai budaya bid’ah dan sesat?

[1] Sebagian riwayat menyebutkan Naqi (tempat pembelian kambing).

[3] Lihat Faidh al-Qadir 6/128 (hadits no 8593) dan Bughyatul Mustarsyidin hlm. 248.

012. AQIDAH Benarkah Allah berada di langit berdasarkan hadits shahih

(saya ambil dari salah satu situs)

BAB I =========================>

Sebagian kawan kita yang menyatakan Allah berada di langit atau bersemayam di atas `arsy berdalil dengan sebuah hadits yang menceritakan tentang kisah seorang budak wanita yang berdialog dengan Rasul Saw.. Dalam hadits tersebut Rasul Saw. melakukan dialog untuk mengetahui keimanan atau indikasi yang menunjukkan bahwa budak wanita yang dimaksud sudah beriman atau belum? Budak dimaksud apakah telah memenuhi persyaratan untuk bisa menjadi kafarah, berupa pembebasan seorang budak beriman bagi muslim yang melanggar perbuatan tertentu di dalam syariat atau tidak?!

Pada penghujung sebuah hadits riwayat Imam Muslim dengan sanad Mu`awiyah bin Hakam direkamkan dialog antara Rasul Saw. dengan budak seperti redaksi berikut:
Rasulullah Saw. berkata: “datangkanlah ia kesini”. Kemudian akupun mendatangkan budak wanita tersebut ke hadapaan beliau. Beliau kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah” Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia, karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim)

Secara umum jumhur umat menolak hadits ini, disebabkan karena faktor:
1. Hadits ini bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat secara naqli dan `aqli[1].
1. Diantara dalil naqli:
a. QS: An Nahl: 17
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?

b. QS: Al Syura: 11:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia
c. Banyak hadits yang menyatakan bahwa Rasul Saw. ketika menanyakan atau menguji keimanan seseorang selalu dengan menggunakan syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan syahadat Muhammad adalah utusan Allah. Hadits seperti ini mencapai kapasitas mutawatir!

2. Dalil `aqly
a. Allah mahasuci dari tempat dan bertempat pada sesuatu apapun dari makhluqNya. Allah mahasuci dari waktu dan pengaruh ruang waktu. Karena keduanya adalah milik Allah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al Razi di dalam menafsirkan firman Allah QS: Al An`am: 12: “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”.”
Ayat ini menjelaskan bahwa tempat dan semua yang berada pada tempat adalah milik Allah.
Dan firman Allah QS: Al An`am: 13:
“Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari.”
Ayat ini menjelaskan bahwa waktu yang bergulir dan semua yang masuk ke dalam ruang waktu adalah kepunyaan Allah, bukan sifatNya.

b. Akal manusia secara pasti dan tegas menyatakan bahwa Allah, al Khaliq pasti beda dengan makhluqNya. Bila makhluq bertempat/tidak terlepas dari tempat tertentu, maka Allah tidak bertempat tertentu. Karena Allah beda dengan makhluqNya. Bila makhluq berada atau dipengaruhi oleh dimensi waktu, sedangkan Allah tidak!

c. Allah bersifat qadim, oleh karena itu Allah tidak berada pada ruang tempat tertentu, baik sebelum diciptakan `arsy dan langit ataupun setelahnya. Apabila Allah berada di atas langit atau di atas `arsy setelah Allah menciptakan keduanya, berarti Allah memiliki sifat hadits, karena keberadaan Allah di atas langit dan `arsy telah didahului oleh ketiadaan langit dan `arsy dan Allah tidak berada di atas langit dan `arsy sebelum diciptakan keduanya. Setelah ada, baru kemudian bersemayam diatasnya. Ini artinya kita menyifati Allah dengan sifat hadits. Sedangkan secara kaidah dinyatakan: bahwa semua yang bisa dihinggapi oleh sifat hadits adalah hadits.

2. Hadits ini merupakan hadits yang menjadi perbincangan para ulama sejak dahulu dan sampai kini, yang tidak diterima oleh sebagian orang karena bid`ah yang mereka lakonkan[2]. Para hafiz di bidang hadits dan para pakar hadits yang mu`tabar sepanjang sejarah sepakat menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional maupun secara sanad hadits. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah!

Mari kita kaji lebih lanjut hadits yang menceritakan tentang kisah budak wanita ini secara komprehensif, komparatif dan kritis.

Perhatikanlah redaksi hadits di dalam Sahih Muslim secara lengkap:

روى عن معاوية بن الحكم السلمي قال: بينا أنا أصلي مع رسول الله صلى الله عليه و سلم إذ عطس رجل من القوم فقلت يرحمك الله فرماني القوم بأبصارهم فقلت واثكل أمياه ما شأنكم ؟ تنظرون إلي فجعلوا يضربون بأيديهم على أفخاذهم فلما رأيتهم يصمتونني لكني سكت فلما صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فبأبي هو وأمي ما رأيت معلما قبله ولا بعده أحسن تعليما منه فوالله ما كهرني ولا ضربني ولا شتمني قال إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القرآن أو كما قال رسول الله صلى الله عليه و سلم قلت يا رسول الله إني حديث عهد بجاهلية وقد جاء الله بالإسلام وإن منا رجالا يأتون الكهان قال فلا تأتهم قال ومنا رجال يتطيرون قال ذاك شيء يجدونه في صدورهم فلا يصدنهم (قال ابن المصباح فلا يصدنكم ) قال قلت ومنا رجال يخطون قال كان نبي من الأنبياء يخط فمن وافق خطه فذاك قال وكانت لي جارية ترعى غنما لي قبل أحد والجوانية فاطلعت ذات يوم فإذا الذيب [ الذئب ؟ ؟ ] قد ذهب بشاة من غنمها وأنا رجل من بني آدم آسف كما يأسفون لكني صككتها صكة فأتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم فعظم ذلك علي قلت يا رسول الله أفلا أعتقها ؟ قال ائتني بها فأتيته بها فقال لها أين الله ؟ قالت في السماء قال من أنا ؟ قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة

Diriwayatkan dari Mu`awiyah Bin Hakam Al Sulamiy: Ketika saya shalat bersama Rasulullah Saw. ada seorang laki-laki yang bersin, lantas saya mendo`akannya dengan mengucapkan yarhamukaLlah. Semua orang yang shalat lantas melihat kepadaku dan aku menjawab: “Celaka kedua orangtua kalian beranak kalian, ada apa kalian melihatku seperti itu?!” Kemudian mereka memukulkan tangan mereka ke paha-paha mereka. Aku tahu mereka memintaku untuk diam, maka akupun diam. Ketika telah selesai Rasul Saw. menunaikan shalat, demi ayah dan ibuku, aku tidak pernah melihat sebelum dan sesudahnya seorang guru yang lebih baik cara mendidiknya daripada Rasul saw.. Demi Allah, beliau tidak menjatuhkanku, tidak memukulku, dan juga tidak mencelaku. Beliau hanya berkata: “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada perkataan manusia di dalamnya. Di dalam shalat hanyalah terdiri dari tasbih, takbir dan bacaan al Qur`an.” Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul saw.. Aku kemudian menjawab: “Wahai Rasul Saw. sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang islam. Dan sesungguhnya diantara kami masih ada yang mendatangi para dukun. Beliau berkata: “Jangan datangi mereka!” Aku kemudian menjelaskan bahwa diantara kami masih ada yang melakukan tathayyur (percaya terhadap kesialan dan bersikap pesimistis). Beliau mengatakan: “Itu hanyalah sesuatu yang mereka rasakan di dalam diri mereka, maka janganlah sampai membuat mereka berpaling (Kata Ibnu Shabbah: maka janganlah membuat kalian berpaling). Kemudian ia melanjutkan penjelasan: Aku berkata: dan sesungguhnya diantara kami ada yang menulis dengan tangan mereka. Rasul Saw. berkata: dari kalangan Nabi juga ada yang menulis (khat) dengan tangan, barangsiapa yang sesuai apa yang mereka tulis, maka beruntunglah ia. Dia kemudian berkata: saya memiliki seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing di sekitar bukit Uhud dan Jawwaniyyah. Pada suatu hari aku memperhatikan ia mengembala, ketika itu seekor srigala telah memangsa seekor kambing. Aku adalah seorang anak manusia juga. Aku bersalah sebagaimana yang lain. Kemudian aku menamparnya (budak wanita) dengan sekali tamparan. Maka kemudian aku mendatangi Rasul Saw.. Rasul Saw. menganggap itu adalah suatu hal yang besar bagiku. Akupun berkata: “Apakah aku mesti membebaskannya?” Rasul Saw. menjawab: “Datangkanlah ia kesini!”. Kemudian akupun mendatangkan budak wanita tersebut ke hadapan Rasul Saw.. Rasul Saw. kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia (budak wanita) menjawab: “Di langit”, Rasul Saw. bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah”. Lalu Rasul Saw. bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia adalah seorang yang beriman” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting kepada kita, diantaranya
1. Sekelumit pelajaran yang bisa dipetik dari hadits, diantaranya;
a. Rasul Saw. mencontohkan metode mengajar yang tauladan.
b. Hadits ini menceritakan tentang masalah membayar kafarah berupa pembebasan seorang budak yang disyaratkan mesti beriman. Rasul Saw. memastikan apakah budak yang akan dibebaskan sudah beriman?!
c. Di dalam hadits menceritakan tentang status periwayat hadits yang baru masuk islam.
d. Di dalam hadits menceritakan keadaan kaum si periwayat hadits.
e. Di dalam hadits diceritakan cara Rasul Saw. mengetahui bahwa si budak seorang beriman atau bukan? Berdasarkan indikasi yang nampak oleh Rasul Saw..[3]

2. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim pada bab “Haram berbicara di dalam shalat”. Beliau tidak meriwayatkan pada bab “iman”, bab “kafarah dengan pembebasan budak beriman”, dan juga bukan pada bab “pembebasan budak”. Artinya hadits ini beliau kelompokkan ke dalam masalah-masalah `amaliyah, bukan bersifat masalah akidah. Karena hadits ini tidak cukup kuat untuk berdalil di dalam masalah akidah.

3. Imam Nawawi dalam menjelaskan penghujung hadits yang merupakan dialog antara Rasul Saw. dengan budak wanita, mengatakan bahwa ulama memiliki banyak persepsi dalam memahaminya, secara ringkas ulama memahaminya dengan 2 metode;
a. Mengimani hadits sebagaimana yang disampaikan oleh Rasul Saw. tanpa mengkaji lebih jauh makna yang dimaksud dan meyakini bahwa tidak ada yang semisal dengan Allah sesuatupun serta mensucikan Allah dari segala sifat makhluq.
b. Takwil dengan makna sesuai dengan sifat yang layak bagi Allah.[4]

BAB II =========================>

Berkenaan dengan hadits Muslim ini, Imam Baihaqi berkomentar di dalam kitabnya Al Asma` Wa Al Shifat[5]:

وهذا صحيح ، قد أخرجه مسلم مقطعا من حديث الأوزاعي وحجاج الصواف عن يحيى بن أبي كثير دون قصة الجارية ، وأظنه إنما تركها من الحديث لاختلاف الرواة في لفظه . وقد ذكرت في كتاب الظهار من السنن مخالفة من خالف معاوية بن الحكم في لفظ الحديث

“Hadits ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara terpotong dari hadits yang bersumber dari Auza`ie dan Hajjaj al Shawwaf dari Yahya bin Abi Katsir tanpa menyebutkan tentang kisah budak wanita. Saya mengira ia meninggalkan kisah budak wanita tersebut karena terjadinya perbedaan riwayat pada redaksinya dan saya juga menyebutkan hadits ini pada bab zhihar di dalam kitab sunan (al kubra). Riwayat yang ada berbeda dengan riwayat para periwayat yang bertentangan dengan riwayat Muawiyah Bin Hakam dari segi redaksi hadits.”

Dari pernyataan Imam Baihaqi ini dipahami secara jelas bahwa pemaparan kisah budak wanita yang merupakan bagian dari hadits[6];
1. Tidak terdapat di dalam sahih Muslim menurut versi Imam Baihaqi.
2. Bahwa kisah ini terjadi perbedaan riwayat dari segi redaksi hadits.

Penjelasan lebih lanjut dari pernyataan Imam Baihaqi;
1. Naskah Sahih Muslim tidak sama antara satu naskah dengan naskah yang lain tentang kisah budak wanita ini. Boleh jadi Imam Muslim menarik kembali hadits ini dan merevisinya pada periode selanjutnya serta menghapusnya atau redaksi hadits yang ada tidak ditemui pada naskah Sahih Muslim yang dimiliki oleh Imam Baihaqi[7]. Sebagaimana juga dilakukan oleh imam Malik di dalam kitab Muwatha` riwayat Laits, yang tidak menyebutkan redaksi “sesungguhnya ia adalah seorang yang beriman”. Samahalnya dengan Imam Bukhari yang menyebutkan potongan hadits ini pada bab af`al al `ibad, dan hanya mengambil potongan yang berhubungan dengan masalah mendo`akan orang yang bersin, tanpa mengisyaratkan sedikit pun tentang masalah “Allah berada di langit”. Imam Bukhari meringkas hadits tanpa menyebutkan sebab beliau meringkasnya. Namun beliau tidak berpegang kepada kesahihan hadits tentang budak wanita ini, karena melihat perbedaan riwayat tentang kisah ini yang menunjukkan bahwa periwayat hadits tidak kuat hafalan (dhabit) dalam periwayatan.

2. Terjadinya perbedaan riwayat antara riwayat yang bersumber dari Mu`awiyah Bin Hakam dengan riwayat yang lain. Bahkan menurut DR. Umar Abdullah Kamil terjadi perbedaan riwayat yang bersumber dari Mu`awiyah bin Hakam sendiri. Sebagaimana penjelasan berikut:

DUA RIWAYAT YANG BERSUMBER DARI MU`AWIYAH BIN HAKAM:

RIWAYAT PERTAMA[8]
Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Muslim diatas dengan menggunakan redaksi:

فقال لها: أين الله ؟ قالت: في السماء. قال: من أنا ؟ قالت: أنت رسول الله. قال: أعتقها فإنها مؤمنة

Beliau (Rasul Saw.) kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia, karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim)

RIWAYAT KEDUA
أوردها الذهبى وذكر سندها الحافظ المزى من طريق سعيد بن زيد عن توبة العنبرى عن عطاء بن يسار قال حدثنى صاحب الجارية نفسه -يشير إلى معاوية بن الحكم- وذكر الحديث وفيه: ( فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده إليها وأشار إليها مستفهما: (من فى السماء؟) قالت: الله

Diriwayatkan oleh Imam Al Dzahaby dan ia menyebutkan bahwa pada sanad riwayat ini terdapat al Hafiz Al Mizziy dari jalur Sa`id bin Zaid dari Taubah al `Anbarry dari Atha` bin Yassar, ia berkata: disampaikan kepadaku oleh pemilik budak -mengisyaratkan kepada Mu`awiyah Bin Hakam- dan menyebutkan hadits, dan di dalam hadits terdapat redaksi: kemudian Nabi Saw. menjulurkan tangannya kepadanya (budak) seraya mengisyaratkan pertanyaan, “siapa di langit?” ia menjawab: “Allah”

Untuk mengkaji lebih jauh tentang jalur-jalur hadits secara komprehensif, silahkan rujuk kitab al `Uluww, Imam Dzahaby, Kitab Tauhid, Ibnu Khuzaimah dan syarah-syarah dari kitab Al Muwatha`, Imam Malik.[9]

Sebagaimana diketahui pada riwayat ini, Rasul Saw. tidak mengatakan “dimana Allah?” dan juga tidak mengatakan “siapa yang ada di langit?”, namun Rasul Saw. hanya menggunakan bahasa isyarat! Perkataan Rasul Saw dan budak wanita pada kedua riwayat merupakan pengungkapan dan redaksi dari periwayat hadits dan pemahamannya, bukan dari Rasul Saw.![10]

Sanad hadits ini insya Allah berderajat hasan. Sa`id Bin Zaid merupakan periwayat hadits yang tsiqah dan beliau merupakan salah seorang rijal Imam Muslim. Beliau juga dinyatakan tsiqah oleh: Ibnu Ma`in, Ibnu Sa`ad, Al `Ajaly dan Sulaiman Bin Harb. Imam Bukhari dan Al Darimy berkomentar tentangnya: “Ia adalah seorang yang sangat bisa dipercaya dan ia adalah seorang yang hafiz”. Meskipun Yahya Bin Sa`id dan yang lainnya menyatakannya sebagai seorang periwayat yang dha`if. Oleh karena itu hadits yang diriwayatkannya tidak akan turun, kecuali kepada derajat hasan.

Pada riwayat pertama yang diriwayatkan oleh Imam Muslim terdapat Hilal Bin Ali Bin Usamah (Hilal Bin Abi Maimunah). Abu Hatim berkomentar tentangnya: “Beliau merupakan seorang syaikh yang ditulis hadits-haditsnya”. Imam Nasa`i juga mengomentari: “tidak apa-apa dengannya, artinya sanad darinya adalah berderajat hasan”. Sebagaimana juga diisyaratkan oleh Al Hafiz Ya`cub Bin Sofyan Al Qasawy. Al Hafiz Ibnu `Abdil Barr pun berkomentar senada dengan itu.[11]

Dari dua riwayat ini tidak bisa dielakkan bahwa terjadi idlthirab (keraguan karena banyak versi) di dalam riwayat dan tentang kepastian adanya lafaz “dimana Allah?” Beghitu juga dengan pernyataan: “berada di langit”. Keduanya merupakan redaksi yang bersumber dari periwayat hadits.

Sangat perlu dipahami bahwa periwayat hadits, Mu`awiyah Bin Hakam bukanlah seorang ulama, bukan seorang fuqaha di kalangan sahabat serta jarang menyertai Rasul Saw. sehingga tidak mempelajari banyak ilmu secara lebih mendalam. Bahkan sebagaimana disebutkan di dalam riwayat hadits pada sahih Muslim di awal, “saya baru saja terlepas dari kaum jahiliyah dan masuk islam”. Ketika itu beliau tidak tahu bahwa menjawab (mendo`akan) orang yang bersin dapat menyebabkan batal shalat dan berbicara dengan orang lain juga membatalkan shalat. Oleh karena itu beliau belum memahami syariat -yang di dalamnya termasuk masalah tauhid- secara lebih matang.

Tentang keadaan periwayat hadits, Muawiyah Bin Hakam ini, akan semakin jelas ketika kita melakukan komparasi dengan riwayat hadits lain, yang diriwayatkan bukan melalui jalur beliau.[12]

Selanjutnya mari kita perhatikan pemaparan Imam Baihaqi:
Ada riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Baihaqi di dalam kitab sunan kubra di dalam Bab zhihar pada sub bab “membebaskan budak yang bisu ketika mengisyaratkan bahwa dirinya telah beriman”.

Riwayat ini dari jalur `Aun bin Abdullah dari Abdullah bin Uthbah dari Abu Hurairah;

عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بِجَارِيَةٍ سَوْدَاءَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَىَّ عِتْقَ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَقَالَ لَهَا :« أَيْنَ اللَّهُ؟ ». فَأَشَارَتْ إِلَى السَّمَاءِ بِإِصْبَعِهَا فَقَالَ لَهَا :« فَمَنْ أَنَا؟ ». فَأَشَارَتْ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَإِلَى السَّمَاءِ تَعْنِى : أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ ».

Dari Abi Hurairah Ra. bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw dengan seorang budak wanita yang berkulit hitam dan ia berkata kepada Nabi Saw: Wahai Rasulullah Saw., sesungguhnya saya memiliki kewajiban untuk membebaskan seorang budak beriman. Kemudian Rasul Saw. berkata kepadanya (budak wanita): “dimana Allah?” kemudian ia (budak wanita) memberi isyarat ke arah langit dengan jarinya. Rasul Saw. kemudian bertanya lagi kepadanya “dan saya siapa?” Ia kembali mengisyaratkan kepada Nabi Saw. dan selanjutnya menunjuk ke arah langit, maksudnya “engkau adalah seorang utusan Allah”. Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepada laki-laki tadi: “Bebaskanlah ia, karena ia adalah seorang yang beriman”.[13]

Jika melihat kepada keumuman riwayat, ini sama dengan riwayat yang sebelumnya, menceritakan tentang kisah yang sama dan di dalam riwayat juga disebutkan bahwa ada redaksi:

فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده اليها وأشار اليها مستفهما وقال (من فى السماء) قالت: الله

Berarti dialog terjadi dengan bahasa isyarat dari kedua sisi dan redaksi yang didakwakan sebenarnya tidak ada. Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali menambahkan bahwa budak wanita ini adalah seorang yang bisu dan ia tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan ketinggian Allah Yang Maha Kamal kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat menunjuk langit. Dialog ini dilakukan oleh Rasul Saw. karena para sahabat menyangka budak wanita sebagai seorang penyembah berhala di rumah-rumah penyembahan berhala. Rasul Saw. ingin mengetahui kebenaran prasangka mereka terhadap keyakinan sang budak, maka sang budak memberitahukan kepada mereka keyakinannya bahwa sembahannya bukanlah berhala-berhala yang ada di rumah-rumah penyembahan berhala, sebagaimana yang disangkakan terhadapnya[14]. Isyarat ini selain menujukkan bahwa budak adalah seorang yang bisu juga mengisyaratkan bahwa si budak adalah seorang non arab sebagaimana disebutkan oleh sebagian riwayat. Isyarat ke langit ini juga adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh orang awam dan mereka tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan Tuhan mereka. Jikalaupun dialog ini benar terjadi sesuai dengan redaksi pada Sahih Muslim, maka Rasul Saw. menyetujui dialog ini sebagai perwujudan metode dakwah yang menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan akal mereka[15]

Bagaimana mungkin kita berpegang kepada riwayat yang menjadi perbincangan sepanjang sejarah ini dan realitanya menyatakan tidak adanya redaksi dari Rasul Saw. dan budak secara tegas dan pasti, seperti yang didakwakan?![16]

BAB III =========================>

ANALISA RIWAYAT DARI JALUR SELAIN MU`AWIYAH BIN HAKAM YANG MENCERITAKAN KISAH YANG SAMA DENGAN MENGGUNAKAN REDAKSI أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ؟ “(APAKAH ENGKAU BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH?)”

RIWAYAT PERTAMA:
Bersumber dari periwayat Atha` bin Yassar -juga terdapat di dalam kitab Mushannaf Abdul Razzaq-:

عن ابن جريج قال: أخبرنى عطاء أن رجلا كانت له جارية فى غنم ترعاها وكانت شاة صفى- يعنى غزيرة فى غنمه تلك- فأراد أن يعطيها نبى الله صلى الله عليه وسلم فجاء السبع فانتزع ضرعها فغضب الرجل فصك وجه جاريته فجاء نبى الله صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له وذكر أنها كانت عليه رقبة مؤمنة وافية قد هم أن يجعلها إياها حين صكها، فقال له النبى صلى الله عليه وسلم: إئتنى بها! فسألها النبى صلى الله عليه وسلم: أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم. وأن محمدا عبد الله ورسوله؟ قالت: نعم. وأن الموت والبعث حق؟ قالت: نعم. وأن الجنة والنار حق؟ قالت: نعم. فلما فرغ، قال: اعتق أو أمسك!

Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku dikhabarkan oleh `Atha`, bahwasanya seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan yang dipekerjakannya untuk mengembalakan kambingnya dan kambing-kambing ini merupakan kambing pilihan – yakni dari kambingnya yang banyak itu-. Kemudian ia bermaksud memberikannya (kambing tersebut) kepada Nabi Saw.. Lalu tibalah binatang buas dan menerkam kambingnya. Si laki-laki kemudian marah dan menampar wajah budak perempuan. Si lak-laki lantas mendatangi Nabi Saw. dan menyebutkan semua yang terjadi kepada Nabi Saw.. Ia juga menyebutkan bahwa ia mesti membebaskan seorang budak yang beriman sebagai kafarah dan ia bermaksud untuk menjadikan budak ini sebagai budak yang dibebaskannya ketika ia menamparnya itu. Maka Rasul Saw. berkata kepadanya: “Datangkanlah ia kepadaku!”. Rasul Saw. kemudian menanyainya (budak wanita): “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “kematian serta kebangkitan adalah sesuatu yang haq?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “surga dan neraka dalah haq?” Ia menjawab: “Iya”. Ketika selesai dialog tersebut, Rasul Saw. mengatakan: “Bebaskanlah ia atau tetap bersamamu!”[17]

Ini adala riwayat dengan sanad shahih, `aliy (paling dekat) kepada `Atha` (periwayat hadits Mu`awiyah bin Hakam), sebagaimana telah diketahui!

Ini adalah riwayat ketiga tentang hadits yang menceritakan kisah budak wanita yang diriwayatkan dari jalur Atha`.

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa dari segi redaksi, hadits diriwayatkan dengan redaksi:
1. Riwayat pertama diriwayatkan dengan redaksi: ” أين الله (dimana Allah)?”.
2. Sedangkan riwayat kedua diriwayatkan dengan redaksi: فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده إليها وأشار إليها مستفهما وقال (من فى السماء) قالت: الله (Menggunakan isyarat kepada si budak untuk bertanya, “siapa yang berada di langit?”).
3. Dan riwayat ketiga dengan redaksi “أَتَشْهَدِينَ (Apakah engkau bersaksi)?”.

Beghinilah kita lihat, redaksi hadits menyatakan bahwa Rasul Saw. tidak mengatakan “dimana Allah?”

Pembaca budiman cobalah perhatikan secara lebih seksama ada keraguan lagi yang ditemui pada riwayat lain tentang hadits budak perempuan ini, yang bersumber dari jalur selain periwayat Atha`. Bahkan riwayat berikut ini lebih meragukan lagi dibandingkan dengan riwayat `Atha` yang sedang kita bahas ini.

RIWAYAT KEDUA
– وَحَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِجَارِيَةٍ لَهُ سَوْدَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَىَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَإِنْ كُنْتَ تَرَاهَا مُؤْمِنَةً أُعْتِقُهَا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَعْتِقْهَا ».

Disampaikan kepadaku oleh Imam Malik: dari Syihab dari `Ubaidillah Bin Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud bahwasanya seorang laki-laki dari kalangan Anshar mendatangi Rasul Saw. ia memiliki seorang budak wanita berkulit hitam dan berkata: Wahai Rasul Saw. sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman, jikalau engkau melihatnya beriman, maka bebaskanlah ia. Maka Rasul Saw. berkata kepadanya (budak wanita) “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau meyakini adanya kebangkitan setelah kematian?! Ia menjawab: “Iya”. Rasul Saw. kemudian mengatakan : “bebaskanlah ia”[18]

Dan diriwayatkan oleh Imam Abdur Razaq[19], ia berkata: saya dikhabarkan oleh Ma`mar dari Zhuhry dari Ubaidillah dari seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan hadits ini. Dan dari jalurnya (Abdul Razaq) juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad[20], sebagaimana juga diriwayatkan oleh periwayat lain.

Adapun tentang `Ubaidillah Bin `Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud, maka beliau adalah salah seorang dari tujuh fuqaha di Madinah yang terkenal dan merupakan rijal ahli hadits yang enam juga. Selain itu, beliau termasuk seorang imam yang tsiqah. Berkata Al Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Al Taqrib tentang beliau: “Ia adalah seorang yang tsiqah, seorang faqih, diterima riwayatnya, kuat hafalannya, tidak diketahui bahwa beliau seorang yang mudallis dan riwayat beliau yang diriwayatkan dengan riwayat `an `anah bisa diterima sebagai riwayat yang bersumber dari pendengaran langsung (sama`). Dan ia benar-benar telah berkomentar tentang seorang laki-laki yang berasal dari kaum Anshar ini.

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya: “Sanadnya (hadits diatas) adalah sahih dan sifat jahalah (tidak dikenal) seorang sahabat yang melekat pada dirinya tidak mempengaruhi periwayatannya.”

Berkata Ibnu Abdil Barr, di dalam kitabnya Al Tamhid Lima Fie Al Muwatha` Min Al Ma`anie Wa Al Asanid: “Secara zhahir haditsnya adalah hadits mursal, akan tetapi dipercayai bahwa haditsnya adalah terjadi ketersambungan riwayat (ittishal), karena adanya pertemuan `Ubaidillah dengan sekelompok sahabat.

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsami, di dalam kitab Majma` Al Zawaid: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para rijalnya adalah rijal yang sahih.”

Jelaslah bagi kita bahwa hadits tentang kisah budak wanita di dalam kitab Sahih Muslim dan pertanyaan Nabi kepadanya, minimal merupakan riwayat yang mudltharib secara redaksional. Jikalau kita ambil dengan cara mentarjih dengan berdasarkan syahid[21] dan indikasi yang mendukungnya, maka riwayat dengan redaksi: أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?” adalah riwayat yang rajih (terkuat). Karena riwayat ini sesuai dengan akidah islam secara yakin dan merupakan hadits yang paling sahih jika di pandang dari sisi sanad.

Jika dipandang dari seluruh sisi, kita tidak boleh mengambil riwayat yang mengatakan: “dimana Allah?” berdasarkan zahir (makna yang langsung dipahami) dari lafaznya. Oleh karena itu riwayat ini ditakwil oleh para ulama, seperti Imam Nawawi, Qadhi Ibnu Al `Arabi, al Bajiy dan masih banyak selain mereka.

Imam Nawawi berkata dalam menjelaskan tentang hadits mudltharib: Hadits mudltharib adalah: hadits yang diriwayatkan dengan pelbagai redaksi yang berbeda namun berdekatan. Apabila ditarjih salah satu riwayat, maka tarjih dengan cara melihat hafalan periwayatnya atau melihat banyaknya sahabat yang meriwayatkan tentang hadits ini, atau dengan cara selain itu. Maka kemudian baru bisa dihukumi bahwa hadits tersebut adalah hadits yang rajih, sehingga tidak lagi menjadi hadits yang mudltharib. Dan idlthirab menyebabkan sebuah hadits menjadi dha`if (lemah) karena hadits menunjukkan ketidak patenan (dhabit) dalam meriwayatkan. (Idlthirab) ini kadang bisa terjadi pada sanad dan kadang bisa terjadi pada matan (redaksi) hadits. Pada kedua keadaan, (idlthirab) bisa jadi bersumber dari satu periwayat atau dari banyak periwayat.

Al Hafidz Ibnu Daqid Al `Id di dalam kitab Al Iqtirah, memaparkan: Hadits mudltharib adalah hadits yang diriwayatkan dengan pelbagai redaksi yang berbeda-beda dan ini merupakan salah satu yang menyebabkan hadits memiliki illat menurut mereka (kalangan ahli hadits) dan menyebabkan hadits berkedudukan dha`if (lemah)

DIANTARA SYAHID YANG MEMPERKUAT HADITS DENGAN RIWAYAT أَتَشْهَدِينَ (APAKAH ENGKAU BERSAKSI)?”
Syahid adalah hadits lain yang diriwayatkan senada secara makna, namun berbeda secara redaksi. Sedangkan laki-laki yang disebutkan pada beberapa riwayat hadits yang disebutkan pada pembahasan ini semuanya dimaksudkan kepada Mu`awiyah Bin Hakam[22]

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Darimiy[23];
أخبرنا أبو الوليد الطيالسي ثنا حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن الشريد قال : أتيت النبي صلى الله عليه و سلم فقلت إن على أمي رقبة وإن عندي جارية سوداء نويبية أفتجزىء عنها قال ادع بها فقال أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم. قال: اعتقها فإنها مؤمنة!

Pada bab “Apabila seseorang mesti membebaskan seorang budak beriman”
Dikhabarkan kepada kami oleh Al Walid Al Thayalisiy bersumber dari Hamad Bin Salamah dari Muhammad Bin `Amru dari Abu Salamah dari Syarid, ia berkata: Aku mendatangi Rasul Saw. dan aku berkata bahwa saya mesti membebaskan seorang budak perempuan dan saya memiliki seorang budak perempuan berkulit hitam dari suku Nuwaibah, apakah cukup dengan membebaskannya sebagai kafarah bagiku? Rasul Saw. berkata: “Panggillah ia!” maka Rasul saw. kemudian bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Rasul memerintahkan: “Merdekakanlah ia, karena sesungguhnya ia adalah seorang yang beriman.”

Berkata Husain Salim Asad: sanadnya hasan karena adanya periwayat hadits yang bernama Muhammad Bin `Amru.

2. Hadist yang diriwayatkan oleh Al Thabraniy[24];

روى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: إِنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً وَعِنْدِي جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ أَعْجَمِيَّةٌ , فَقَالَ: ائْتِنِي بِهَا, فَقَالَ:أَتَشْهَدِينَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ , قَالَ:أَتَشْهَدِينَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ, قَالَ:فأَعْتِقْهَا!

Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas bahwasanya seorang laki-laki mendatangi Rasul Saw. dan ia berkata: sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman dan saya memiliki seorang budak berkulit hitam dari kalangan non arab. Rasul Saw. berkata: “Bawalah ia kesini!”. Rasul Saw. kemudian menanyainya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah? Ia berkata: “Iya”. Kemudian beliau berkata: “Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah? Ia menjawab: “Iya”. Rasul Saw. kemudian memerintahkan: “bebaskanlah ia!”

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsamy di dalam kitabnya Majma` Al Zawaid, berkomentar:
Pada sanad hadits ada seorang periwayat yang bernama Muhammad Bin Abi Layla dan beliau adalah seorang yang jelek hafalannya, tetapi beliau sebelumnya adalah seorang yang tsiqah.

3. Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dengan redaksi: “siapa tuhanmu?” yang juga merupakan hadits sahih secara sanad[25];

روى عن الشريد بن السويد الثقفى، قال: قلت: يا رسول الله إن أمى أوصت أن نعتق عنها رقبة وعندى جارية سوداء، قال: ادع بها! فجاءت فقال: من ربك؟ قالت: الله، قال: من أنا؟ قالت: رسول الله. قال: أعتقها فإنها مؤمنة!

Diriwayatkan dari Syarid Bin Suwaid Al Tsaqafiy, ia berkata: aku berkata: Wahai Rasul saw., sesungguhnya ibuku telah mewasiatkan kepadaku untuk membebaskan seorang budak atas dirinya dan saya memiliki seorang budak berkulit hitam. Rasul Saw. berkata: “Panggilah ia!” Maka datanglah budak itu dan Rasul Saw. bertanya: “Siapa tuhanmu?” Ia menjawab: “Allah”. Rasul Saw. bertanya lagi: “siapa saya?” Ia menjawab: “Utusan Allah.” Rasul Saw. berkata: “Bebaskanlah ia, karena ia adalah seorang yang beriman.”

Riwayat ini semakna dengan riwayat yang memiliki redaksi ” أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?”

BAB IV =========================>

HADITS-HADITS INI TIDAK TERDAPAT DI DALAM KUTUB AL SITTAH
Apabila ada yang mengklaim bahwa hadits-hadits yang dijadikan rujukan dalam pembahasan ini tidak terdapat di dalam kutub al sittah (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmudzi, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa`i, dan Sunan Ibnu Majah) sehingga tidak bisa diterima, dijadikan pedoman dan pijakan kita, apalagi dalam masalah akidah, mari kita perhatikan komentar Al Hafiz Abu Al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary[26]:

Bila ada yang menolak hadits dengan statement bahwa “hadits ini tidak ditemui di dalam dua kitab sahih (bukhari-Muslim), atau tidak diriwayatkan oleh kutub al sittah”. Pernyataan seperti ini, akan disangka oleh orang-orang yang sedikit ilmu, bahwa setiap hadits yang tidak diriwayatkan di dalam dua kitab sahih (Bukhari-Muslim) dan juga tidak diriwayatkan di dalam kutub al sittah lainnya, adalah hadits dha`if atau maudhu`! Pernyataan ini sesungguhnya adalah statement bathil yang tidak berdasarkan kepada pijakan ilmu yang benar, akan tetapi sebagai bagian dari bid`ah yang mereka munculkan pada zaman sekarang ini. Tidak ada di dunia ini seorangpun `alim, fuqaha` mujtahid, dan para muhadits yang hafiz mensyaratkan bahwa standar kesahihan hadits harus diriwayatkan di dalam salah satu kutub sittah! Akan tetapi ulama sepakat bahwa “hadits apabila memenuhi persyaratan sahih, wajib beramal dengan hadits tersebut, baik diriwayatkan di dalam kutub sittah ataupun tidak.

STUDI KRITIS DAN ANALISA TERHADAP HADITS
Apakah pertanyaan “dimana Allah?” yang biasa digunakan untuk menanyakan tempat secara indrawi menunjukkan terhadap ketuhanan Zat yang ditanyakan?

Dengan kata lain: Apakah pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui bahwa si budak wanita seorang yang murni menyembah Allah atau menyekutukan Allah dengan sembahan lainnya? Si budak wanita -yang ditanya oleh Rasul Saw.,- adalah seorang yang telah hidup di arab dengan keyakinan penduduk yang menyektukan Allah dengan sembahan mereka berupa berhala.

Jikalau demikian, bukankah sebagian orang arab juga menyembah berhala sebagai Tuhan mereka yang berada di bumi dan mereka juga mengakui adanya Tuhan di langit?! Menilik kepada sejarah, bukankah sudah ada sebagian umat yang menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, dan ini telah disebutkan oleh Al Quran?! Ternyata Tuhan-tuhan mereka adalah di langit juga!

Maka pertanyaan yang disebutkan “dimana Allah?” tidak bisa diklaim untuk menunjukkan terhadap ketuhanan dan jawaban yang ada di dalam redaksi hadits “di langit” juga tidak tidak menunjukkan terhadap ketauhidan!

Maka atas dasar apa disebutkan riwayat yang syadz dan tertolak ini, bahwa Rasul Saw bersaksi terhadap keimanan budak wanita?!

Contoh-contoh dari hadits sebelumnya dan sesudahnya menguatkan bahwa yang diinginkan sebagai bukti terhadap keislaman seseorang adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Bukan persaksian bahwa Allah -sebagaimana mereka katakan- memiliki tempat, yaitu di langit! Maka pertanyaannya sebenarnya ditujukan untuk menyatakan bahwa Allah tinggi secara maknawi bukan secara indrawi, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam kitab syarah Sahih Muslim. Hal senada juga disebutkan oleh Imam Al Ghazali.[27]

BAB V =========================>

AKIDAH DAN HADITS AHAD
Sesungguhnya akidah kaum muslim tidaklah dibangun, kecuali di atas keyakinan yang bersifat qath`iy (tegas) dan yaqiniy (yakin) serta tidak mungkin dibangun ditas dalil-dalil yang bersifat zhanniy. Para ulama tauhid sepakat bahwa sumber dalil-dalil pada permasalahan akidah harus bersifat qath`iy (tegas) dan yaqiniy (yakin), baik diambil dari dalil naqli maupun dalil aqly.

Zhan sebagaiman diketahui adalah segala sesuatu yang secara umum adalah benar, akan tetapi ada potensi terdapatnya kesalahan. Jikalau hadits Ahad termasuk ke dalam kategori zhanniyyat (dalil-dalil yang bersifat zhanny), maka tidak bisa berdalil dengannya dalam masalah akidah, sebagaimana dijelaskan pada beberapa statement berikut:

1. Berkata Al Hafiz Al Khatib Al Baghdady, di dalam kitab Al Faqih wa Al Mutafaqqih: Dan apabila seorang, yang bisa dipercaya, yang tsiqah meriwayatkan sebuah khabar yang bersambung sanadnya, bisa ditolak periwayatannya dengan beberapa perkara; salah satunya, apabila riwayatnya bertentangan dengan dalil `aqli (hukum akal), maka bisa langsung diketahui bahwa riwayat tersebut adalah bathil!

2. Berkata Imam Nawawi di dalam Syarah Sahih Muslim:
Sebagian ahli hadits berpendapat bahwa hadits Ahad di dalam Shahih Bukhari dan Sahih Muslim bisa menghasilkan ilmu, bedahalnya dengan riwayat selainnya (Bukhari-Muslim) terhadap hadits-hadits ahad. Kami telah menyebutkan masalah ini sebelumnya dan kami juga membatalkan pendapat ini, pada beberapa sub bab. Kemudian (Imam Nawawi) berkomentar -setelah beberapa baris-: dan adapun yang berkata: khabar Ahad menghasilkan ilmu, maka ini adalah mengabaikan fungsi indra manusia, bagaimana mungkin menghasilkan ilmu, sedangkan kemungkinan salah, waham, bohong dan selainnya sangat mungkin disematkan kepadanya. Wallahu a`lam.

KETERANGAN SECARA JELAS PARA IMAM, HUFAZH DAN PAKAR HADITS TERHADAP STATUS HADITS YANG MENCERITAKAN KISAH BUDAK WANITA INI SEBAGAI HADITS MUDLTHARIB

1. Imam Baihaqi
Sebagaimana telah disebutkan di awal kajian, Imam Baihaqi menyatakan: Hadits ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara terpotong dari hadits yang bersumber dari Auza`ie dan Hajjaj al Shawwaf dari Yahya bin Abi Katsir tanpa menyebutkan tentang kisah budak wanita. Saya mengira ia meninggalkan kisah budak wanita tersebut karena terjadinya perbedaan riwayat pada redaksinya dan saya juga menyebutkan hadits ini pada bab zhihar di dalam kitab sunan (al kubra). Riwayat yang ada berbeda dengan riwayat para periwayat yang bertentangan dengan riwayat Muawiyah Bin Hakam dari segi redaksi hadits. Imam Baihaqi juga menyebutkan secara terang dan jelas bahwa hadits ini bukan merupakan bagian dari hadits Sahih Muslim.

Dari sisi lain yang sangat penting diperhatikan, Imam Baihaqi menyebutkan secara terang bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, maksudnya terjadi perbedaan para periwayat hadits dari segi redaksional hadits. Jikalaupun diterima riwayat Imam Muslim, maka hadits ini adalah hadits mudltharib, tanpa diragukan dibimbangkan lagi, sebagaimana telah kita tetapkan pada bagian-bagian sebelumnya ketika mengkaji jalur hadits.

Dari sisi ketiga, hadits tentang kisah budak wanita ini juga tidak disebutkan oleh Imam Muslim pada bab pembebasan budak, juga bukan pada bab sumpah dan nazar. Ini merupakan penguat pernyataan Imam Baihaqi dan selain beliau.

2. Imam Al Hafiz al Bazzar, di dalam kitab Kasyfu Al Astar:
Imam al Bazzar juga menyatakan dengan terang bahwa hadits ini adalah hadits yang mudltharib di dalam kitab musnad beliau. Beliau berkata setelah meriwayatkan hadits dari salah satu jalur dari pada jalur-jalur yang ada: “Dan hadits ini juga diriwayatkan semisal dengannya dengan redaksi yang berbeda-beda”.

3. Al Hafiz Ibnu Hajar :
Ibnu Hajar di Dalam kitab Al Talkhis Al Habir, menyatakan secara jelas dan terang bahwa hadits ini adalah hadits yang mudltharib dan beliau berkomentar: “Dan pada lafaz hadits terjadi perbedaan yang sangat banyak”.

Ibnu Hajar di dalam kitab Fath Al Bari, juga menyebutkan secara jelas bahwa tidak boleh meyakini “dimana” kepada Zat Allah dan tidak diamalkan hadits ini, meskipun sanadnya sahih menurut beliau, akan tetapi ini disebabkan karena idlthirab pada hadits! Karena idlthirab pada hadits menyebabkan sebuah hadits berkedudukan dha`if, meskipun sanadnya sahih. Oleh karen itu Al Hafiz berkomentar: Sesungguhnya pengetahun akal terhadap rahasia-rahasia Ilahi sangatlah terbatas, tidak mungkin dihukumi Allah dengan pertanyaan “kenapa” dan “bagaimana?” Sebagaimana juga tidak bisa diajukan pertanyaan “dimana” dan “dalam kondisi apa?”

Oleh karena itu pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy adalah konsekuensi dari pertanyaan “dimana?” dan “bagaimana?”, meskipun tidak menyebutkan secara jelas pertanyaan tersebut! Meskipun pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy dikunci dengan pernyataan “jangan fikirkan bagaimana Allah berada di langit atau di atas `arsy”, ini tidak menafikan mereka menisbahkan sifat makhluq kepada Al Khaliq, yaitu keduanya sama-sama berada pada suatu tempat!

Ketika anda menyatakan bahwa Allah berada di atas `arsy atau di atas langit itu artinya anda sudah duluan menentukan kaifiyah terhadap Allah dengan menetapkan langit atau `arsy sebagai tempat Allah berada. Ketika ini disampaikan kepada orang lain maka anda sudah membuat orang berfikir. Ketika anda sudah dahuluan memikirkan zat Allah dan membuat orang berfikir kemudian anda melarang orang memikirkan tentang kaifiah zat Allah! Justru pemikiran anda yang seperti ini sangat sulit dipahami oleh orang lain, karena kontradiktif secara akal!

Maka dengan pernyataan-pernyataan para ulama hadits seperti disebutkan, kita bisa meyakini seyakin-yakinnya dan tidak diragukan lagi terhadap status dan kedudukan hadits tentang budak wanita yang mudltharib, yang dipandang berdasarkan kaidah ilmu hadits (ilmu Mushtalah Hadits) yang juga diperkuat oleh keterangan secara jelas para ahli hadits dari dulu sampai sekarang. Oleh karena itu tidak mungkin lafaz hadits dijadikan `Illat (pijakan). Sebagaimana juga dijelaskan bahwa hadist yang diriwayatkan dengan redaksi “apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?” adalah merupakan riwayat yang paling sahih.

Jikalau seandainya dilakukan tarjih, diantara riwayat-riwayat yang ada, maka riwayat yang paling rajih- tidak diragukan lagi- adalah riwayat dengan redaksi “apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?”

Karena riwayat ini merupakan riwayat yang paling sahih dan yang bisa diyakini sesuai dengan apa yang selalu dilakukan oleh Nabi Saw.. Jikalau kita telisik kembali lembaran sejarah Nabi Saw. akan kita temui bahwa beliau selalu menyuruh seseorang yang masuk islam atau menanyakan keimanan seseorang dengan syahadatain (dua syahadat). Kisah-kisah seperti ini telah diriwayatkan kepada kita secara mutawatir bahwa beliau menyuruh manusia, memerangi mereka dan menguji keimanan mereka dengan syahadatain (dua syahadat). Oleh karena itu maka riwayat “dimana Allah?” merupakan riwayat syadz yang diingkari.

HADITS-HADITS NABI SAW. YANG MENYATAKAN BUKTI KEISLAMAN SESEORANG, DENGAN “BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH”, BUKAN MENANYAKAN “DIMANA ALLAH?”

1. Hadits riwayat Bukhari[28]
روى البخارى عن ابن عمر أن النبى صلى الله عليه وسلم قال لابن الصياد: ( أتشهد أني رسول الله )؟

Diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Ibnu `Umar, bahwasanya Nabi Saw., berkata kepada Ibnu Shayyad: Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?

2. Hadits Bukhari – Muslim[29]

عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليع وسلم قال: أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

Dari Ibnu `Umar bahwasanya Rasul Saw. bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!

Setelah menyebutkan hadits ini, Imam Suyuthi berkomentar: hadits ini adalah hadits mutawatir[30]

3. Hadits Sahih Muslim[31]

عن ابن عباس أن معاذا قال بعثني رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله

Dari Ibnu `Abbas bahwasanya Mu`adz berkata: Aku diutus oleh Rasul Saw. , beliau berkata: sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum dari golongan ahlul kitab. Maka serulah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah.

4. Hadits Sahih Muslim[32]
روى أن رسول الله أبا هريرة نعليه، قال: يا أبا هريرة اذهب بنعلي هاتين فمن لقيت من وراء هذا الحائط يشهد أن لا إله إلا الله مستيقنا بها قلبه فبشره بالجنة.

Diriwayatkan dari Rasul Saw. Wahai Abu Hurairah pergilah engkau dengan membawa kedua sandalku ini, siapapun yang engkau temui di balik kebun ini yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan meyakini (syahadat itu) di hati mereka, maka kabarkanlah mereka dengan surga!

5. Hadits Sahih Muslim[33]

حديث عتبان بن مالك قال إن جماعة من الصحابة أحبوا أن يدعو النبى صلى الله عليه وسلم على مالك ابن دخشم ليهلك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أليس يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ؟ قالوا إنه يقول ذلك وما هو في قلبه. قال لا يشهد أحد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله فيدخل النار أو تطعمه قال أنس فأعجبني هذا الحديث فقلت لابني اكتبه فكتبه

Hadits `Itban bin Malik, ia berkata: Sesungguhnya sekelompok sahabat Rasul Saw. berharap agar Rasul Saw. mendoakan Malik Bin Dukhsyum celaka. Rasul Saw. menjawab: Bukankah ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Mereka menjawab: sesungguhnya ia mengatakan itu hanyalah di lisan saja dan ia tidak meyakini di hatinya. Rasul Saw. bersabda: Tidak ada seorangpun yang besaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah akan masuk neraka dan dimakan oleh neraka. Anas berkata: Hadits ini mengagumkanku, maka aku berkata kepada anakku: Tulislah hadits ini! Maka ia pun menulisnya.

Inilah sekelumit pemaparan hadits dan selain hadits-hadits ini sangat banyak sekali -bahkan sampai derajat mutawatir- semuanya menguatkan kita untuk merajihkan riwayat hadits dengan redaksi: اتشهدين أن لا إله إلا الله (apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah)?. Disamping hadits ini merupakan hadist yang paling sahih sanadnya.

BAB VI =========================>

KESIMPULAN
Dari pemaparan tentang hadits budak wanita yang dibebaskan Rasul Saw. ini kita ketahui bahwa:
1. Hadits yang diriwayatkan dengan redaksi: اتشهدين أن لا إله إلا الله (apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah)? Adalah hadits yang paling sahih secara sanad dan paling kuat pegangan untuk beramal dengannya, terutama dalam masalah akidah.
2. Hadits Sahih Muslim dengan redaksi pertanyaan Rasul Saw: أين الله؟ (dimana Allah)? dan jawaban budak wanita: فى السماء adalah hadits mudltharib -sebagaimana diakui oleh para imam dan pakar hadits- yang tidak sah dijadikan pijakan di dalam masalah akidah. Pertanyaan Rasul Saw. dan jawaban budak yang selalu dijadikan pegangan dalil, bisa diyakini bukanlah bersumber dari Rasul Saw. dan budak wanita, akan tetapi bersumber dari periwayat hadits.
3. Tidak dijadikannya Hadits Sahih Muslim sebagai landasan berdalil dikuatkan oleh; bahwa hadits ini bertentangan dengan dalil yang qath`iy (tegas) dan yaqini (yakin), baik itu secara naqli maupun secara `aqli serta bertentangan dengan ijma` kaum muslimin dari dulu sampai sekarang bahwa Allah berbeda dengan makhluqNya dan Allah tidak bertempat/butuh kepada tempat layaknya makhluq.

Oleh karena itu maka keyakinan bahwa Allah berada di langit tidak bersandarkan kepada dalil yang sahih dan kuat. Adapun orang awam dan anak-anak yang biasa mengatakan/mengisyaratkan bahwa Allah berada di langit tidaklah bisa dijadikan pijakan dalil, karena hanya itulah kemampuan mereka untuk menunjukkan wujud Allah. Orang awam atau anak-anak kecil ketika mengucapkan/mengisyaratkkan hal tersebut sangat ditoleransi oleh syariat, tidak dianggap bid`ah apalagi kafir, akan tetapi dipahami perkataan mereka dengan makna majaz, bahwa maksud mereka adalah ketinggian Allah Yang Maha Kamal tidak sama dengan semua makhluq! Apakah mungkin orang-orang yang berilmu akan berdalil dengan perbuatan orang awam dan anak-anak?! Beghitu juga halnya bahwa ketika kita berdo`a dengan menengadahkan tangan ke langit, bukan berarti Allah berada di langit, tapi karena langit adalah kiblatnya do`a, sebagaimana Ka`bah adalah kiblatnya shalat!

Kepada sahabat-sahabat yang berpegang teguh dengan hadits tentang budak wanita yang diriwayatkan di dalam sahih Muslim ini saya ajak untuk tidak fanatis dengan doktrinan sepihak. Bukalah fikiran sejernih-jernihnya dan lapangkanlah hati untuk menerima dan menganalisa ilmu yang diperoleh oleh orang lain. Saya yakin bahwa tidak ada yang ma`shum, selain Rasulullah Saw.. Kenapa tidak mencoba mengkritisi apa yang disampaikan oleh guru kita dan mencoba menanyakan akal, apakah masih netral dan objektif?

Kita selalu mendakwa bahwa al haq (kebenaran) lebih didahulukan daripada figuritas seseorang! Jikalau benar demikian, bukankah kebenaran tidak hanya dimonopoli oleh guru-guru yang semanhaj dengan kita?! Jikalau kita mengaku bahwa kita adalah orang yang kuat berpegang dengan al Qur`an dan sunnah -jikalau benar demikian-, adalah tidak layak bila mengambil secara parsial atau tidak mengkaji secara detail kesahihan nash syariat yang kita terima? Generasi salaf itu sangat banyak, maka adalah sangat aib bila kita memilah dan memilih salaf yang kita pedomani dengan mengabaikan salaf yang lain! Sahabat tidak mesti menerima orang lain, tapi tidak bijak bila menolak analisa orang lain, hanya karena alasan berbeda dengan apa yang diyakini!

Jikalau sahabat selalu mendakwa bahwa pemahaman sahabat adalah pemahaman generasi salaf, sekali-kali bertanyalah kepada diri sahabat, apakah benar pemahaman generasi salaf seperti yang saya pahami dan seperti yang saya aplikasikan?! Jikalau generasi salaf merupakan orang yang tunduk kepada kebenaran dan sangat tawadhu`, kenapa kita tunduk kepada guru doktrinan guru saja dan terlalu sulit menerima orang lain yang beda manhaj?! Jikalau generasi salaf sangat mendahulukan husnuzhan kepada saudaranya, kenapa kita justru mendahulukan su`u zhan kepada saudara kita yang sama-sama muslim?!

Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa kita sama-sama bermaksud untuk menetapkan segala sifat kesempurnaan bagi Allah dan menafikan segala sifat yang menunjukkan kekurangan, aib dan kelemahan.
Wallahu a`lam

Ya Allah berikanlah kepada kami cahaya kebenaran dan mudahkanlah kami untuk istiqomah dengan kebenaran serta hilangkan sikap fanatisme buta dari diri kami sampai akhir hayat kami. Amiin

Referensi dan rujukan kajian :
1. Al Qur`an Al Karim
2. Kitab-kitab hadits dan sunan
3. DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009
4. Abu Hamid Al Ghazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009, editing dan komentar: DR. Musthafa `Imran.
5. Abu Hamid Al Ghazaly, Iljam Al `Awwam `An Ilmi Al Kalam, Al Maktabah Al Azhariyyah li al Turats, Kairo.
6. Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
7. Taqiyyuddin Al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
8. Taqiyyuddin Abi Bakar Al Hishniy Al Dimasqiy, Daf`u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary, 2010.
9. `Abdurrahman Abi Al Hasan Al Jauziy, Daf`u Syubhat al Tasybih, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary, 2010.
10. Muhammad Zahid Al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
11. Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin Al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
12. Al Hafiz Abu al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary, Nihayat Al Amal Fie Shihati Wa Syarh Hadits `Ardl Al A`mal, Maktabah al Qahirah, Kairo, 2006.
13. DR. Thaha Al Dusuqiy Hibisyi, Al Janib Al Ilahy Fie Fikri Al Imam Al Ghazali, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo, 2010.
14. DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010
15. DR. Manshur Muhammad Muhammad `Uwais, Ibnu Taimiyyah Laisa Salafiyyan, Dar Al Nahdah Al `Arabiyyah, Kairo, cet. ke I, 2010.
16. DR. Muhammad Abdil Fadhil Al Qushy, Hawamisy ` Ala Al `Aqidah Al Nizhamiyyah Li Al Imam Al Haramain, Maktabah Iman, Kairo, cet. ke II, 2006.
17. DR. Ahmad `Umar Hasyim, Qawaid Ushul Al Hadits, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo